50 Tahun Paroki St.Paulus Depok

50 Tahun Paroki St.Paulus Depok, Minggu, 4 Juli 2010
“Dalam Syukur Kita Bangkit, Hidup Dan Berkarya”.

Umat katolik di Depok sebenarnya sudah ada jauh sebelum tahun 1960. Tahun 1889 muncul keluarga Katolik di Depok yang mengikuti perayaan ekaristi di Jakarta & Bogor. Dalam sebuah buku permandian di Katedral Bogor ditemukan beberapa keluarga Belanda yang telah membaptiskan anak-anak mereka di Bogor tahun 2 Desember 1892. Karena belum ada gereja dan pastor yang melayani, keluarga-keluarga ini misa ke Bogor atau Batavia (Jakarta) dengan berjalan kaki. Jumlah umat Katolik tidak tercatat pada masa itu.

Sejalan dengan perkembangan jumlah umat Katolik di Depok, sejak tahun 40-an pastor dari Bogor mulai melayani misa di Depok. Misa dilakukan dari rumah ke rumah. Lama kelamaan misa menjadi 1 kali dalam seminggu. Depok menjadi stasi dan masuk menjadi bagian dari wilayah vikariat apostolik Sukabumi.

Tanggal 7 Februari 1960 stasi St. Paulus Depok resmi menjadi Paroki St. Paulus Depok yang ditandai dengan peristiwa pembaptisan Estalita Esperanza Maria oleh Pastor J.J. Rosen. Waktu itu gereja St.Paulus Depok sudah berada di Jl.Melati 4 Depok, areal yang ditempati hingga saat ini. Wilayah teritorial Paroki Paulus Depok hanya meliputi kawasan Depok Lama saat ini. Belakangan, tanggal pembaptisan Estalita inilah yang menjadi Hari Jadi Paroki Paulus Depok.

Ketika kemerdekaan RI diproklamirkan banyak tanah partikulir diserahkan kepada pemerintah RI. Sekitar tahun 1955 banyak orang “Belanda Depok” yang pulang ke tanah airnya termasuk penghuni di Jalan Melati No 4. Dulu namanya Jalan Sarce. Oleh Monsigneur Dr. N. Geise, OFM, uskup Bogor ketika itu, tanah tersebut dibeli dan pada akhir tahun 50-an dibuatlah gereja kecil dan umat di Depok mulai teratur melakukan misa.

Pastor pertama yang menetap di Depok adalah Pater JJ. Rossen. Setelah selesai tugas beliau kembali ke negerinya (Balanda), diganti oleh Pater Herkulanus Frankhuysen. Selanjutnya umat Katolik di Depok dilayani oleh Monsigneur Geise, OFM, Pater RJ. Kusnen, OFM, Pater Anton Ban, OFM, dan Pater muda Michael Angkur OFM (saat ini adalah Uskup Bogor). “Waktu itu Depok masih sunyi. Tanaman bambu ada di mana-mana. Depok itu hutan bambu dulunya,” kata Mgr. Michael Angkur perihal Depok pada tahun 1963. Hingga tahun 1970 perkembangan umat Katolik di Depok sangat lambat.

Perkembangan sangat pesat terjadi ketika PERUMNAS Depok dibangun pada tahun 1978. Banyak orang yang bekerja di Jakarta mulai melirik Depok sebagai tempat tinggal. Kebanyakan keluarga muda. Di antara mereka banyak yang beragama Katolik. Dalam sekejap pertambahan umat Katolik di Paroki St.Paulus meningkat tajam.
Karena peningkatan yang pesat ini, beberapa wilayah St.Paulus yang menjadi stasi atau wilayah dimekarkan menjadi paroki, antara lain Paroki St. Herkulanus dan Paroki St. Joannes Baptista Parung. Kemudian beberapa paroki lain segera tumbuh seperti St. Markus di Depok II dan St. Yakobus Kelapa Dua.
Saat ini Paroki St. Paulus digembalakan oleh 2 orang imam yaitu Pastor Markus Gunadi, OFM dan Pastor Taucen Hotlan Girsang, OFM. Jumlah umat yang terdaftar sekitar 800 kepala keluarga. Jika setiap kepala keluarga memiliki 2 orang anak, maka jumlah umat Paroki Paulus sekitar 3200 jiwa.
Tetapi umat di Paroki Paulus, demikian pula beberapa paroki di sekitarnya adalah umat yang datang dan pergi. Mereka tidak menetap. Ini pulalah yang mempengaruhi reksa pastoral di paroki ini. “Paroki ini terdiri dari pendatang dari beragam etnis dan budaya dari seluruh Indonesia. Jadi Paroki Paulus sangat beragam umatnya,” kata Pastor Markus Gunadi. Dalam usia emas ini Romo Markus berharap umat semakin dewasa dalam iman dan perbuatan, semakin saling memahami dan semakin peduli dengan sesama umat dan masyarakat sekitarnya.

“Paroki St. Paulus juga bersyukur karena terus menghadirkan karya penebusan Allah. Didukung oleh Dewan Pastoral Paroki yang anggotanya juga dari umat yang bermacam ragam profesi, bisa saling mendukung dan menghidupkan. Yang kurang diisi, yang lebih melengkapi, yang kuat memotivasi, yang lemah disemangati. Itulah jiwa Gereja Katolik,” kata Romo Markus Gunadi.

Menyambut pesta penuh syukur ini panitia melakukan kegiatan-kegiatan antara lain di bidang rohani. Panitia telah melakukan kegiatan untuk senantiasa kehidupan kami mengarah kepada Tuhan dengan cara pendalaman iman selama 1 minggu berturut-turut oleh semua umat di hadapan Bunda Maria secara bergilir, mengadakan seminar-seminar yang bertema menyiapkan generasi penerus gereja, ziarah-ziarah ke Gua Sendangsono, Ganjuran, Tritis Wonosari, Kereb Salatiga, lalu ziarah ke 9 gereja antara lain Katedral Bogor, Sukasari, Cicurug, Sukabumi, Cianjur, Cipanas, dan terakhir di Sindanglaya.

Dibidang jasmani dengan mengambil motto “Mensana in Corporisano umam diajak terlibat dalam pertandingan olahraga antara lain voli, futsal, badminton, tenis meja, tarik tambang, dan catur. Di bidang seni antara lain vocal group, paduan suara (fesparawi). Di bidang sosial antara lain donor darah, pengobatan gratis, pembagian sembako dengan kerjasama Artha Graha. “Ini salah satu cara kami mensyukuri usia emas paroki St.Paulus. Kami berharap rasa kekeluargaan di kalangan umat berkembang semakin kental dan baik,” kata Petrus Sudiono, Ketua Panitia Perayaan 50 Tahun.

Aloysius Suryadi, koordinator acara mengatakan, pesta puncak 50 tahun akan dimulai dengan misa konselebrasi yang dipimpin oleh Mgr. Michael Cosmas Angkur,OFM, Uskup Bogor, dengan sepuluh orang imam. Perayaan mengambil tempat di gereja. Usai perayaan dilaksanakan seremoni berupa sambutan-sambutan Wakil Walikota Depok, Uskup Bogor & Ketua Panitia. Hadir dalam perayaan tersebut Unsur Muspida Kota Depok, Danrem, Camat Pancoran Mas dan Wakapolres Depok serta tamu undangan dari berbagai kalangan, seperti FKKUKD, FKUB dan utusan puluhan gereja di Depok. Acara ini berlangsung hingga siang hari. Dalam acara ini dipentaskan beragam kesenian dari beberapa daerah seperti Tarian Betawi, Barongsai & Musik Bambu. Bersamaan dengan itu Samuel Afi Junior menghibur anak-anak di area panggung anak & badut-badut lucu bermain dan bernyanyi bersama anak-anak Depok selain stand-stand bazaar yang meramaikan perayaan penuh syukur tersebut.

Malam hari adalah Ajang Kreasi Anak Muda. Ini adalah malam di mana kreativitas anak-anak muda ditantang untuk unjuk kebolehan. Mereka bernyanyi, bermusik, berpuisi, menari, parodi dsbnya. “Sengaja kami adakan khusus bagi anak muda dengan mengundang paroki-paroki di Keuskupan Bogor karena di tangan merekalah masa depan gereja,” Aloysius Suryadi memberi argumentasi.

Acara 50 Tahun Paroki Paulus Depok ini juga menghadirkan beberapa pesohor seperti Joe Richard, Samuel AFI Junior, Michael Idol, Nikita, Imelda Fransisca (Miss Indonesia 2005), Fransisca Alverina, Kia Afi dan Delon Idol.

dsc_6609

dsc_9354

dsc_9479

dsc_9545

dsc_9601

dsc_9756

dsc_9654

Ditulis oleh:
Aloysius Suryadi

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *