Selain kenangan akan ukiran dan lumpurnya, Agats ternyata menyimpan kenangan tersendiri bagi seorang saudara yang menjalani tahun orientasi karya di sana. Hal itu terungkap dalam sharing para top-er/tok-er (sebutan untuk para saudara yang menjalani tahun orientasi karya/pastoral).

Satu kali, saudara ini mesti memimpin salah satu ibadat di parokinya berhubung tidak ada imam yang dapat mempersembahkan misa di sana. Maklumlah tenaga imam di Keuskupan Agats, Papua ini tidak terlalu banyak. Kebetulan teks bacaan ibadat yang dibacakan pada saat itu berbicara tentang cinta kasih. Maka ketika Injil sudah selesai dibacakan, saudara ini dengan berapi-api dan lantang karena suaranya memang lantang, berkhotbah di depan umat yang hadir tentang cinta kasih. “Saudara-saudara, seperti tadi kita dengar dalam Injil, Yesus memerintahkan kita untuk mencintai satu sama lain; kita musti mewujudkan perintah Yesus itu dalam hidup kita sehari-hari.” Dan masih banyak kata-kata sakti serupa yang diserukannya dari atas mimbar.

Tiba-tiba dari tengah-tengah umat yang hadir, seorang paitua berdiri dan angkat bicara tidak kalah lantang, “E…anak…koe…turun sudah dari mimbar itu! Tra usah bicara banyak tentang cinta kasih. Kau bilang kita harus mencintai satu sama lain…baru…hanya satu mama yang kau suruh kerja di pastoran. Lalu mama-mama lainnya bagaimana…? ”
Buyar sudah khotbah saudara kita ini. Ada-ada saja!

1 Komentar

  • hahahahaha, memang di Papua ada2 saja. Aplagi umatnya seringkali spontan saja. Pernah pula seorang saudara hendak memimpin ibadat. Namun kebanyakan umat malah pergi ke pasar. So, dia menegus salah seorang umat dan berkata; “Bapak tidak ikut ibadatkah?” Bapak itu dengan enteng menjawab: “Gereja makan?” hehehehehe

Tinggalkan Komentar