Engkau Membujuk Aku…. Aku Membiarkan Diriku Dibujuk

Sumber gambar: https://www.ncregister.com/commentaries/consecrated-life-is-at-the-very-heart-of-the-church

Pope Francis greets nuns during his weekly audience at the Paul VI Hall on January 15, 2020 in Vatican City, Vatican. (Photo by Franco Origlia/Getty Images).

Refleksi tentang Jalan Keindahan dalam Hidup Religus (Bagian 2)

Ketika berbicara tentang panggilan hidup bakti, Paus Yohanes Paulus II mengutip ekspresi Nabi Yeremia (20:7) yang menyatakan: “Engkau telah membujuk aku, ya Tuhan, dan aku telah membiarkan diriku dibujuk” (VC 19).

Ekspresi di atas menyingkapkan dua aspek yang tak terpisahkan dalam panggilan para anggota hidup bakti. Aspek pertama berkaitan dengan inisiatif Tuhan Allah, yang dengan penuh pesona mewahyukan diri-Nya melalui bentuk-bentuk yang kelihatan dan menarik manusia kepada diri-Nya. Allah menghadirkan diri-Nya sebagai Keindahan yang menyentuh hati seseorang. Aspek kedua berkaitan dengan jawaban manusia. Panggilan seorang anggota hidup bakti terwujud secara penuh ketika pribadi yang mengalami keagungan Allah membiarkan diri dipimpin oleh-Nya .  

Kesatuan antara dua aspek ini memungkinkan kita untuk menggambarkan panggilan hidup bakti sebagai sebuah peristiwa keindahan. Menurut Hans Urs von Balthasar, keindahan, dari perspektif teologis, berarti perjumpaan antara aspek obyektif (Tuhan yang memanifestasikan keagungan-Nya) dan aspek subyektif (manusia yang merasa tersentuh, tertarik dan membiarkan diri ditransformasi oleh manifestasi ilahi tersebut).[1] Dengan demikian, panggilan hidup bakti dapat disebut sebagai keindahan, karena selalu mengandaikan adanya perjumpaan dialogis antara Tuhan yang memanggil dan manusia yang menjawab. Relasi yang tak terpisahkan antara kedua aspek tersebut dalam konteks hidup bakti akan dijelaskan lebih jauh di bawah ini.      

  1. Allah yang membujuk

“Engkau telah membujuk aku, ya Tuhan” merupakan bagian pertama dari kalimat yang diucapkan Nabi Yeremia (Yer. 20:7). Apa yang hendak diungkapkan Yeremia ketika mengatakan hal ini?

Kata membujuk (atau merayu) yang terdapat dalam kalimat di atas tidak memiliki konotasi negatif. Kata ini tidak mengacu pada sikap manipulasi atau tindakan untuk menggiring orang melakukan perbuatan yang tidak baik.

Kata-kata Yeremia harus dimaknai sebagai sebuah metafor. Allah digambarkan seperti seorang manusia yang berusaha merebut hati sang nabi dengan rayuan-Nya. Seperti yang biasa dilakukan orang dewasa kepada anak-anak, demikian juga Allah berusaha memikat hati orang yang dipilih-Nya. Efek dari bujukan yang dilakukan Allah adalah munculnya kesiapsediaan Yeremia untuk menerima tugas profetis dari Allah, walaupun untuk itu ia harus menghadapi situasi sulit.[2]

Dengan kata membujuk, Yeremia mau menggarisbawahi sikap Allah yang telah membangkitkan dalam dirinya rasa kagum, tertarik, dan cinta. Membujuk merupakan sebuah sarana berelasi yang membuka kemungkinan bagi adanya perjumpaan dengan yang lain/Yang lain. Antonio Genziani mengungkapkan bahwa Allah yang membujuk berarti:

“Allah yang menjangkau setiap manusia, secara khusus dalam hatinya. Melalui Sabda-Nyalah, manusia dapat mengalami pengalaman cinta; melalui Sabda, Allah menggetarkan hati manusia, karena Ia adalah Sabda yang memiliki kemampuan untuk membujuk, yaitu menjangkau semua keinginan-keinginan, harapan-harapan, memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hidup. Membujuk adalah sebuah Sabda yang berisikan keelokan dan daya tarik dari Yang Ilahi, yang mengisahkan Keindahan, kekaguman karena mengkomunikasikan totalitas cinta Allah kepada manusia. Allah membujuk kita karena Ia mencintai kita dan berkat pengalaman cinta-Nya, pada gilirannya kita mampu mencintai…[3]   

Jadi, seperti yang dijelaskan di atas, bujukan Allah mengacu pada kehadiran provokatif Allah di hadapan manusia. Sebuah kehadiran yang mampu membangkitkan di dalam diri manusia keinginan untuk melekatkan diri kepada-Nya; sebuah kehadiran yang (seperti dalam pengalaman murid-murid yang pertama, Zakheus, Maria dari Magdala) mampu menaklukkan hati dan mengubah arah hidup seseorang. 

Bagi Paus Yohanes Paulus II, “Allah yang membujuk” merupakan sebuah ekspresi yang menjelaskan peristiwa panggilan dari mereka yang memeluk hidup bakti (VC 19). Pada awal panggilan mereka ada bujukan ilahi. Bujukan tersebut mengambil bentuknya yang kelihatan dalam peristiwa Kristus. Melalui hidup-Nya, Allah memanifestasikan diri sebagai sebuah realitas estetik yang menarik perhatian beberapa orang dan mendorong mereka untuk meninggalkan segala sesuatu dan menempuh sebuah jalan yang tidak lazim. Kemiliauan Kristus, Yang Terelok di antara anak-anak manusia, menggetarkan hati orang-orang itu dan menciptakan dalam diri mereka hasrat untuk berada bersama Dia dan menyesuaikan diri dengan-Nya selama seluruh hidup.   

Dalam anjuran apostolik VC, peristiwa  transfigurasi diangkat sebagai ikon atau gambaran untuk menggarisbawahi peran menentukan dari bujukan ilahi dalam panggilan para anggota hidup bakti (VC 14). Sama seperti ketiga murid, para anggota hidup bakti mengalami momen di mana mereka merasa disentuh oleh peristiwa Yesus dan, karena itu, menyerahkan diri mereka secara total kepada-Nya: “betapa bahagianya kami berada bersama Dikau, membaktikan diri kepada-Mu, menjadikan Engkau satu-satunya fokus hidup kami!” (VC 15).

Panggilan untuk menjalani hidup bakti bukanlah karya manusia, tetapi merupakan anugerah Allah trinitaris; karya mengagumkan dari tiga pribadi ilahi (VC 1; VC 22). Allah berinisiatif memanggil orang-orang tertentu guna membaktikan diri secara radikal kepada-Nya, sesuai dengan contoh yang ditunjukkan oleh Yesus Kristus. Roh Kudus memampukan orang-orang ini untuk mengenal dan menjalani panggilan mereka secara setia (VC 14).[4] Jadi, bujukan ilahi, melalui karya Trinitas, menjadi dasar dari hidup bakti; kunci untuk membaca seluruh aspek yang berkaitan dengan hidup dan misi para anggota hidup bakti. 

Pengakuan akan prioritas bujukan Allah dalam panggilan hidup bakti menandai adanya pergeseran teologi hidup bakti. Teologi bergeser dari posisi tradisional, yang cenderung mendefinisikan hidup bakti sebagai sebuah status kesempurnaan, menuju sebuah posisi yang menempatkan pengalaman akan Allah sebagai pusat panggilan. D. Ogliari menulis:

Menurut model teologi kesempurnaan, ideal hidup bakti terletak dalam mencapai status kesempurnaan melalui dimensi moral dan disiplin, yaitu pelaksanaan aturan secata ketat dan praktik-praktik askese. Sekarang hidup bakti tidak dipersepsikan lagi hanya atas dasar askese dan ketaatan pada aturan, juga bukan karena sebuah hidup moral yang sempurna, tetapi berdasarkan pada kemampuan untuk mentransmisikan cahaya Allah, menjadi “bintang-bintang di dunia” (Flp. 2:15-16) berkat sebuah hidup yang menyatu dengan iman, harapan dan kasih, keutamaan-keutamaan teologis yang dihidupi sebagai pengikut Yesus. [5] 

  1. Manusia yang membiarkan dirinya dibujuk oleh keindahan

Bagian kedua dari kalimat yang dicucapkan Yeremia, “aku telah membiarkan diriku dibujuk”, mewakili sebuah sisi lain dari dinamika panggilan hidup bakti, yaitu pilihan bebas dari orang yang terpanggil untuk dibimbing oleh Tuhan.

Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa bujukan ilahi merupakan dasar dari panggilan kepada hidup bakti. Melalui Yesus Kristus, model paling elok di antara semua anak manusia, Allah memanggil beberapa orang dan membuat mereka mampu mendedikasikan diri mereka secara total kepada-Nya. Allah ingin agar ada orang-orang yang bisa menjadi memori hidup Yesus Kristus, sehingga karya-Nya berlangsung selama-lamanya. 

Tetapi inisiatif Allah hanya bisa terealisasi secara penuh jika dari pihak individu ada keterbukaan di hadapan misteri Allah dan kesediaan personal untuk menyesuaikan diri dengan Kristus. Bujukan ilahi mencapai tujuannya hanya ketika individu membiarkan Roh Kudus menciptakan dalam dirinya sebuah “kepekaan akan Allah”, yaitu kapasitas untuk mengecap kehadiran Tuhan dan membiarkan diri ditransformasi oleh keindahan-Nya. Menggunakan kata-kata Pavel N. Evdokimov, kita bisa menegaskan bahwa kesediaan untuk bekerja sama dengan Roh Kudus membuat hidup setiap individu menjadi doksologi hidup, sebuah aklamasi yang transparan tentang kemuliaan Allah.[6]       

Anggota hidup bakti adalah dia yang membiarkan dirinya dibujuk oleh Allah untuk hidup seperti Putera-Nya dan, sebagai konsekuensi, harus membangun beberapa sikap penting: kehendak untuk tinggal bersama Yesus, hidup dalam kesesuaian dengan-Nya, dan kesedian untuk membarui diri setiap hari.

 a. Tinggal bersama Kristus

Terpesona oleh hidup Kristus, satu-satunya harta yang memuaskan kerinduan manusia, seorang yang memeluk hidup bakti memutuskan untuk tinggal bersama dengan-Nya. Tinggal bersama dengan Yesus merupakan salah satu tujuan utama dari panggilan para rasul. Markus 3:13-15 menyatakan, “Ia menetapkan dua belas orang  untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan”. Adalah penting memperhatikan susunan dari alasan-alasan yang menjadi motif panggilan para rasul. Alasan untuk “memberitakan Injil” ditempatkan setelah alasan untuk “menyertai Dia” (tinggal bersama dengan Dia). Ini menjelaskan kepada kita bahwa untuk dapat berbicara dan bertindak dalam nama Yesus, para rasul harus pertama-tama tinggal bersama dengan Dia sehingga dapat mengenalnya secara personal dan mendalam.[7] Momen untuk tinggal bersama dengan Yesus merupakan waktu untuk formasi. Yesus, yang selalu taat kepada pembinaan Bapa, berusaha membimbing para rasul agar memiliki sikap ketaatan yang total kepada Bapa. 

Seperti yang dialami para rasul, tinggal bersama dengan Yesus juga merupakan kondisi sine qua non bagi orang-orang yang memeluk hidup bakti. Agar bisa menjadi memori keindahan Tuhan, maka, tidak bisa tidak, mereka harus tinggal bersama dengan-Nya. Seorang pemeluk hidup bakti bisa menceritakan dan menjadi saksi hidup sang Guru hanya kalau menghidupi secara langsung pengalaman tinggal bersama dengan Dia. Kita ingat kesaksian Yohanes yang mengatakan: “apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami,  yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba  dengan tangan kami tentang Firman hidup–itulah yang kami tuliskan kepada kamu (Yoh. 1:1-3). 

b. Penyesuaian diri secara total dengan Kristus

Tersentuh oleh keindahan Tuhan, para anggota hidup bakti memutuskan untuk tinggal bersama dengan Dia. Lalu apa yang mereka lakukan selama tinggal bersama dengan Kristus? Selama tinggal bersama dengan Tuhan, para pemeluk hidup bakti secara terus menerus belajar menyesuaikan diri dengan Dia sehingga menjadi cristiformi (pribadi-pribadi yang serupa dengan Kristus). Selama tinggal bersama Yesus, para anggota hidup bakti dipanggil untuk  hidup selaras dengan cara hidup dan cara berada sang Guru. Ia adalah model yang paling tinggi. Hidup-Nya menjadi contoh sempurna untuk diikuti; cermin yang membantu para pemeluk hidup bakti dalam mengamati kondisi aktual mereka, mengorientasikan diri untuk menemukan dan mengikuti ideal hidup mereka.

Tetapi untuk dapat menyesuaikan diri dengan Dia, para anggota hidup bakti harus membiarkan diri dibentuk oleh Roh Kudus. Seperti yang direfleksikan dalam anjuran apostolik VC, para anggota hidup bakti secara khusus dipanggil untuk membiarkan diri mereka dibentuk oleh Roh Kudus menjadi serupa dengan Kristus, menurut nasihat-nasihat Injil, hidup persaudaraan dan pelayanan (VC 19).

Refleksi di atas menunjukkan bahwa di satu sisi, Allah, melalui Roh-Nya, selalu berusaha menarik perhatian para anggota hidup bakti dan meyakinkan mereka  untuk mengusahakan yang terbaik dalam mereproduksi cara hidup dan cara berada Yesus. Dalam hidup mereka, Roh Kudus bekerja seperti energi yang mendorong mereka untuk menjalani bentuk kehidupan yang disiapkan Allah bagi mereka secara setia dan penuh bakti. Di bawah bimbingan Roh Kudus, mereka menjadi cerminan dari kasih dan keindahan Tuhan. 

Di sisi lain, refleksi di atas juga menggarisbawahi pentingnya kerja sama yang aktif dan total dari pihak para anggota hidup bakti. “Membiarkan diri dibentuk oleh Roh Kudus” merupakan ungkapan yang mengundang para pemeluk hidup bakti agar memiliki kesediaan untuk masuk dalam persekutuan dengan Yesus dan ditransformasi oleh-Nya. Tinggal bersama dengan Yesus bearti hidup dalam persekutuan dengan Dia, menginkorporasi hidup-Nya. Mengacu pada ungkapan yang dipakai Nicola Cabasilas, seorang tokoh mistik bizantium dari abad XIV, kita dapat mengatakan bahwa selama tinggal bersama Yesus, para anggota hidup bakti dipanggil untuk menjadi “darah dan daging Putra Allah.[8]

c. Dalam pembaruan diri terus menerus

Saat tinggal bersama Yesus, para anggota hidup bakti belajar untuk menyesuaikan diri dengan sang Guru dengan memeluk cara hidup dan tindakan-Nya. Selama mereka hidup, mereka tunduk pada proses penyesuaian ini. Seperti hidup itu sendiri, penyesuaian atau penyerupaan diri dengan Yesus harus berlangsung secara tetap dan, dengan demikian, membutuhkan pembaruan terus menerus. Berkaitan dengan ini, dokumen Ripartire da Cristo menegaskan, “hidup bakti, seperti setiap hidup kristen lainya, secara kodrati adalah dinamis dan mereka yang oleh Roh Kudus dipanggil untuk memeluknya memiliki kebutuhan untuk membarui diri secara tetap dalam pertumbuhan menuju tingkatan kesempurnaan Tubuh Kristus (RdC 20). Hanya dengan membarui diri secara terus menerus, para anggota hidup bakti dapat menjaga status mereka sebagai bentuk-bentuk kelihatan dari keindahan ilahi.

Berbicara tentang pembaruan hidup religius, dekrit Perfectae caritatis menegaskan bahwa pembaharuan hidup religius mencakup sekaligus usaha terus menerus kembali ke sumber-sumber bentuk hidup kristen dan semangat asli lembaga-lembaga, dan pada waktu yang sama penyesuaian institusi sendiri dengan tuntutan zaman yang terus berubah (PC 2). Penegasan ini menjelaskan bahwa pembaruan dalam hidup bakti mengandung implikasi rangkap dua: kembali ke asal-usul dan penyesuai diri dengan lingkungan-lingkungan yang baru.

[1] Bdk. A. Nichols, The word has been abroad. A guide through Balthasar’s aesthetics, Washington, CUA Press, 1998, 41

[2]  A. Penna, La Sacra Bibbia : volgata latina e traduzione italiana dai testi originali illustrate con note critiche e commentate. Geremia, Torino, Marietti, 1952, 167-168.

[3] A. Genziani, Seduzione, dalam «Vocazioni» 3 (2015), 49.

[4] Bdk. P. G. Cabra, La vita consacrata. Appunti di teologia e spiritualità, Brescia, Queriniana, 2015, 151.

[5] D. Ogliari, Toccati dalla bellezza: vita donata e vita consacrata, dalam «Doctor Angelicus», Convegno Pastorale Diocesano, Isola del Liri, 23 – 24-25 Febbraio 2015, 91.

[6] P. N. Evdokimov, Teologia della bellezza, Milano, San Paolo, 2017,  22.

[7] Cfr. P. G. Cabra, La vita consacrata. Appunti di teologia e spiritualità, 123.

[8] Dikutip dari M. I. Rupnik, Bellezza e vocazione, dalam «Vocazione» 2 (2015), 58.

 

Sdr. Gusty Nggame, OFM

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *