Manuskrip Cletus Groenen OFM – Buku VIII

Manuskrip Cletus Groenen Buku ke-8

Seluruh naskah asli ditulis dengan ejaan lama dan sekarang diketik apa adanya, dengan ejaan baru, tanpa mengubah atau mengganti kata-kata (yang lebih tepat). Yang saya perbaiki hanya kesalahan ejaan. Kata-kata yang sama sekali tidak dapat saya baca saya isi dengan titik-titik yang di-warnai dengan stabilo kuning seperti ….. Titik-titik yang tidak distabilo kuning, seperti ….. berarti bahwa itu asli seperti naskah aslinya. Demikian pula kata yang saya ragukan, kuberi stabilo kuning, seperti servannya. Sedangkan tanda baca (koma, titik, tanda kutip, tanda tanya dan sebagainya), banyak yang dari saya sendiri, karena konteks – menurut saya – menuntut demikian.

Semua Subjudul berasal dari saya sendiri, demi lebih terangnya masalah yang sedang dikupas. Subjudul ini hanya sekedar usul saya, karena itu para pembaca diundang untuk memperbaikinya.

Kapan naskah ini ditulis. Tidak ada keterangan perihal tanggal penulisan. Namun berdasarkan ejaan yang dipakai – semua naskah dalam jilid ini ditulis dengan ejaan lama – dan berdasarkan kenyataan bahwa ejaan baru secara resmi diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1972, maka dengan pasti dapat disimpulkan bahwa semua naskah yang ada pada jilid ini ditulis sebelum tahun 1972.

Sekarang perihal isinya. Karena naskah ini ditulis sebelum tahun 1972, maka isinya pun mencerminkan keadaan sosial, ekonomi, politik dan religius pada masa itu, bahkan ungkapan-ungkapan bahasanya pun terpengaruh oleh kebiasaan zaman itu. Suasana, baik dalam bidang politik sosial maupun dalam bidang religius di Indonesia berada dalam suasana peralihan dan perjuangan mencari identitas. Dalam bidang kenegaraan, baru pada awal era Suharto, yang sedang tertatih-tatih bangkit kembali dari keterpurukan pada akhir zaman Soekarno. Dalam bidang religius, kehidupan Gereja Katolik masih dalam masa pancaroba post Vatikan II yang mencerminkan juga apa yang terjadi di negeri Belanda. Maklumlah jumlah dan pengaruh para misionaris Belanda waktu itu masih sangat besar. Apa yang sedang bergolak di Belanda juga sangat terasa di Indonesia.

Selamat membacanya.
Alfons S. Suhardi, OFM, pengetik.

 

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *