Mengenal St. Antonius Padua (bagian 2)

Video berikut ini merupakan seri “Mengenal St. Antonius Padua” yang dikerjakan oleh Franciscan Media Centre Indonesia – sebuah tim pusat media yang ada di dalam persaudaraan fransiskan OFM Provinsi St. Michael Malaikat Agung di Indonesia. Bagian kedua ini berisi tentang asal-usul tradisi berdoa bersama St. Antonius untuk membebaskan orang dari pengaruh-pengaruh jahat si iblis. Diceriterakan kembali oleh Rm. FA. Oki Dwihatmanto OFM.

Bagian 2 – Membebaskan Orang dari Pengaruh Iblis

Tradisi kedua kali ini yang erat hubungannya dengan St. Antonius adalah berdoa memohon bantuan Allah melalui St. Antonius supaya kita dibebaskan/dilepaskan dari pengaruh-pengaruh jahat.

Hal ini berawal dari peristiwa yang juga terjadi bertahun-tahun setelah Antonius meninggal. Di Portugal ada seorang perempuan yang selalu diganggu dan digoda oleh iblis. Dia selalu diganggu dan digoda dalam alam pikirannya untuk melakukan bunuh diri. Suatu hari ia terbawa pikiran itu. Dia berjalan ke sebuah sungai untuk menceburkan diri – hendak bunuh diri di situ. Dalam perjalanan menuju ke sungai itu, ia melewati sebuah kapel. Dia tergoda untuk masuk ke kapel dan berdoa karena ada patung St. Antonius.

Ketika ia sedang berdoa, tiba-tiba ada suara berkata, “Ibu, ambillah kertas yang ada di bawah patungku.” Kemudian perempuan itu mengambil kertas tersebut dan ternyata di atas kertas itu teradapt tulisan “ECCE CRUCEM.”

Suara itu masih melanjutkan, “bawalah selalu kertas itu maka engkau akan terbebas dari godaan dan gangguan-gangguan iblis.” Dan benar, ibu ini seperti tersadar. Dia tidak lagi ingin bunuh diri. Dan setelah ia selalu membawa kertas itu kemanapun dia pergi maka tidak pernah ada lagi gangguan-gangguan dan godaan jahat dari iblis.

Kemudia, berita ini tersebar luas. Orang menceritakan dan terus menyebarkan cerita pengalaman perempuan itu bagaimana ia bisa dibebaskan dari gangguan iblis. Sampai akhirnya kisah ini sampai ke telinga Raja Dinnis – Raja Portugal saat itu. Maka kemudian sang raja mendatangi ibu ini dan meminta tulisan ECCE CRUCEM tersebut. Raja ini lalu – sebagai bentuk penghormatan kepada St. Antonius – menyimpan tulisan ECCE CRUCEM tersebut bersama mahkota-mahkota mulia kerajaannya.

Tetapi kemudian apa yang terjadi pada perempuan tadi?   Setelah ia tidak memegang tulisan ECCE CRUCEM, gangguan-gangguan dari iblis datang kembali dan keinginan untuk bunuh diri  muncul kembali. Seorang kepala biara fransiskan yang mengetahui situasi si ibu menghadap Raja Dinnis dan menceritakan hal, ini kemudian  meminta salinan tulisan yang sudah dia simpan. Maka Raja Dinnis menuliskan salinan ECCE CRUCEM dan kemudian memberikannya kepada kepala biara fransiskan itu yang akhirnya meneruskannya kepada sang ibu.

Dan mukjizat kembali terjadi. Begitu ibu ini memegang kembali tulisan ECCE CRUCEM – gangguan-gangguan tadi menjadi hilang.

Kemudian tradisi ini pun berkembang. Orang-orang mulai menyimpan dan membawa tulisan ECCE CRUCEM kemanapun mereka pergi supaya godaan-godaan iblis tidak akan terjadi. Bahkan Paus Sixtus V (seorang Paus fransiskan) menulisan ECCE CRUCEM ini pada batu obeliks yang ada di pelataran St. Petrus di Vatikan.

Ini merupakan tradisi dalam rangka menghormati St. Antonius Padua.

“Santo Antonius mohonkanlah kepada Allah agar kami dilindungi dari segala godaan dan gangguan iblis.”


Ecce Crucem Domini – Lihatlah Salib Tuhan

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *