Jakarta, OFM – Bertempat di Gereja St. Paskalis, Paroki Cempaka Putih, delapan Saudara Dina Provinsi St. Michael Malaikat Agung Indonesia ditahbiskan menjadi Imam dan Diakon oleh Mgr. Adrianus Sunarko, OFM, Uskup Keuskupan Pangkalpinang, pada Selasa (12/03/2024). Empat saudara ditahbiskan menjadi Imam. Mereka adalah Diakon Guido Ganggus, OFM, Diakon Rolansius Lantur, OFM, Diakon Yohanes Wahyu Prasetyo, OFM, dan Diakon Wilfridus Papin, OFM. Sedangkan empat orang lainnya ditahbiskan menjadi Diakon, yakni Fr. Urbanus Tangi, OFM, Fr. Januarius Martin Stau, OFM, Fr. Theofanus Arito, OFM, dan Fr. Apolinaris Pierer Nana, OFM. Perayaan Ekaristi Tahbisan dirayakan secara konselebrasi. Mgr. Adrianus Sunarko, OFM didampingi oleh RP. Mikhael Peruhe, OFM (Minister Provinsi St. Michael Malaikat Agung Indonesia dan Fundasi Timor Leste), RP. Daniel Klau Nahak, OFM (Vikaris Provinsi), RP. Agustinus Laurentius Nggame, OFM (Magister para Saudara Muda Pasca TOP), dan RP. Thomas Ferry Suharto, OFM (Pastor Kepala Gereja St. Paskalis, Paroki Cempaka Putih), serta sekitar 45 imam lainnya.

Mgr. Adrianus Sunarko menumpangkan tangan ke atas Diakon. Penumpangan tangan merupakan ritus penting dalam upacara tahbisan.

 

Dekat dengan Tuhan: Menghindari Spiritual Alzheimer

Dalam homilinya, Uskup yang adalah Guru Besar Teologi Dogmatik di STF Driyarkara, Jakarta ini memberikan wejangan yang komprehensif kepada para imam dan diakon baru. Beliau mengungkapkan bacaan-bacaan Kitab Suci yang dipilih up to date dan tidak ketinggalan zaman karena bernada harapan serta sejalan dengan tema sinodalitas yang saat ini sedang direfleksikan Gereja.  “Dalam naskah kerja sinode itu, pemimpin-pemimpin yang diharapkan adalah yang mampu mendengarkan, tidak mudah menghakimi, memaafkan, murah hati, rendah hati, menjadi pelayan, tidak birokratis berlebihan, menjadi pemimpin yang welcoming dan embracing, yang ramah dan berusaha merangkul, khususnya bagi mereka yang tersisih,” jelas beliau.

Beliau mengajak imam dan diakon baru untuk berani menegur mereka yang hidup tidak tertib, menghibur mereka yang tawar hati, membela mereka yang lemah, bersabar terhadap semua orang, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan tetapi mengusahakan kebaikan terhaap semua orang. “Ini juga bagian dari panggilan kedinaan karena menjadi Fransiskan berarti dipanggil untuk mengasihi tetapi juga tidak mentolerir segala kejahatan dan yang bertentangan dengan kebenaran serta kebaikan,” jelasnya.

Mgr. Adrianus Sunarko OFM sedang menyampaikan homili di hadapan umat.

Sejalan dengan hal ini, beliau mengutip pesan Paus Fransiskus kepada anggota Curia Roma pada tahun 2014.  Terdapat lima belas penyakit orang-orang di Curia Roma, salah satunya adalah Spiritual Alzheimer (baca: lupa akan sejarah keselamatan). Sesungguhnya hidup manusia didasarkan atas Rahmat Allah. Rahmat membuat manusia diterima dan dimaafkan (diampuni) meskipun sebenarnya tidak layak. Lupa akan kenyataan itu membuat seseorang bisa menjadi sombong dan merasa diri penting. “Jangan sombong menjadi imam, pemimpin atau gembala, jangan merasa diri sangat penting, dan kurang melayani. Kalau ini yang terjadi maka penyakit Spiritual Alzheimer sudah menjangkiti,” sambungnya.

Mengakhiri homili, beliau mengutip nasihat Paus Fransiskus dalam salah satu seminar untuk para imam. “Para imam tidak dapat hidup tanpa relasi yang vital dan personal, otentik dan solid dengan Kristus. Tanpa itu seorang imam akan menjadi birokrat atau pekerja sewaan atau fungsionaris klerikal. Sebaliknya, kalau imam mempunyai relasi yang vital dan personal dengan Kristus, ia akan menjadi gembala yang berbelarasa, terlibat, dan senantiasa bersedia untuk umatnya,” ungkapnya. Kedekatan dengan Kristus itu menjadi jurus ampuh melawan spiritual Alzheimer.

 

Perutusan Imam Baru dan Diakon

Sejumlah sambutan disampaikan sebelum berkat penutup. Dalam sambutannya, Minister Provinsi, RP. Mikhael Peruhe, OFM mengingatkan para imam dan diakon baru agar menjadi Fransiskan yang baik, sederhana, penuh sukacita dalam pelayanan. Selain menyampaikan terima kasih, ia juga menegaskan kembali pesan yang disampaikan oleh Bapa Uskup dalam homili sejak pemberkataan peralatan liturgi (Senin, 11/03/2024) hingga perayaan tahbisan. Para imam dan diakon baru mesti “dekat dengan Tuhan, dekat dengan umat, berbelarasa, dan setia, seperti Dia yang memanggil kita adalah setia,” tegasnya Rm. Mike OFM.

Beliau juga membacakan tugas perutusan bagi para imam dan diakon baru. Mereka diutus oleh Persaudaraan OFM untuk berkarya di beberapa tempat karya para Fransiskan. RP. Guido Ganggus, OFM diutus untuk melayani di Panti Asuhan St. Yusup Sindanglaya, Keuskupan Bogor. RP. Rolansius Lantur, OFM diutus menjadi Pastor Rekan di Gereja St. Maria Ratu Para Malaikat, Paroki Kurubhoko, Keuskupan Agung Ende. RP. Yohanes Wahyu Prasetyo, OFM diutus untuk melayani di Komisi Justice, Peace, and Integrity of Creation (JPIC) OFM Indonesia. RP. Wilfridus Papin, OFM diutus ke daerah perbatasan Indonesia-Timor Leste, tepatnya di Gereja Hati Kudus Yesus, Paroki Laktutus, Keuskupan Atambua.

Minister Provinsi, Sdr. Mike Peruhe, OFM sedang memberikan sambutan sekaligus membacakan perutusan para diakon dan imam baru.

Keempat diakon juga diutus menjalani masa diakonat di beberapa tempat. Diakon Urbanus Tangi, OFM diutus ke Gereja St. Theodorus, Paroki Liwa, Keuskupan Tanjungkarang. Diakon Januarius Martin Stau, OFM diutus ke Panti Asuhan Vincentius Putera, Jakarta. Diakon Theofanus Arito, OFM diutus ke Gereja St. Cosmas dan Damianus, Stasi Kijang, Paroki Tanjungpinang, Keuskupan Pangkalpinang. Diakon Apolinaris Pierer Nana, OFM diutus untuk mendampingi para Novis OFM di Novisiat Transitus, Depok, Keuskupan Bogor.

Mewakili para diakon dan imam baru, RP Wahyu OFM menyampaikan sambutan. Beliau mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih karena telah “dibesarkan” dalam persaudaraan OFM Indonesia.  Nada Syukur yang sama diungkapkan oleh Bapak Libertus Jehani dalam sambutan mewakili orang tua para diakon dan imam baru. “Terima kasih kepada Persaudaraan OFM Indonesia karena telah menjadi perpanjangan tangan orang tua atau keluarga untuk mendampingi, mendidik, dan menghantar anak-anak kami sampai pada peristiwa agung tahbisan hari ini,” ungkapnya.

Para imam baru memberikan berkat perdana merek kepada segenap utat yang hadir dalam perayaan.

Dalam sambutan mewakili pihak pemerintah, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik, Kementerian Agama RI, Drs. Suparman, S.E., M.Si, memberi dukungan kepada para imam dan diakon baru. Pada kesempatan ini juga Dirjen Bimas Katolik menegaskan peran Gereja Katolik sebagai mitra kerja pemerintah. Oleh karena itu, Gereja dan pemerintah hendaknya selalu bergandengan tangan dalam melayani umat Katolik.

Perayaan Ekaristi Tahbisan berlangsung secara meriah berkat dukungan dan kerja sama Dewan Paroki Harian Gereja St. Paskalis, segenap petugas, dan umat Paroki Cempaka Putih. Perayaan Ekaristi ditutup dengan berkat meriah dari Mgr. Sunarko OFM dan berkat perdana para imam baru. Acara dilanjutkan dengan ramah tamah di Aula St. Fransiskus, Gedung Karya Pastoral Paroki Cempaka Putih.***

 Kontributor: Jimmy Hendrik Rance Tnomat, OFM

Ed.: Sdr. Rio, OFM 

Tinggalkan Komentar