Merangkul Ibu Bumi

[tab name=”Berita”]

Di tengah kesibukan tingkat tinggi, Minister Provinsi Santo Mikael di Indonesia, Sdr. Adrianus Sunarko OFM, pada Sabtu, 20 April 2013, tampil dengan segar dan cerah di Gedung OBOR, Jalan Gunung Sahari, Jakarta. Penampilan Minister Provinsi ini dalam rangka membedah buku, yang berjudul Iman yang Merangkul Bumi: Mempertanggungjawabkan Iman di Hadapan Persoalan Ekologis. Buku ini diterbitkan oleh OBOR dan meluncur di pasaran sejak Januari 2013.

TINGKAT TINGGI

Dikatakan bahwa kesibukan Minister Provinsi kita itu “tingkat tinggi” karena beliau baru saja masuk Ibukota Indonesia malam sebelum penampilannya di OBOR. Sumber informasi yang dapat dipercaya mengatakan bahwa beliau menjadi salah satu wakil KOPTARI (Konferensi Pemimpin Tarekat Religius Indonesia) untuk mengungak dari dekat drama kemanusiaan, yakni human trafficking di Singapura. Rupanya sedang terjadi gerakan dari dalam organ KOPTARI untuk peduli pada salah satu masalah sosial. Bisa jadi study di Singapura selama beberapa hari ini merupakan pengejawantahan tema yang dibahas dalam Sidang Pleno KOPTARI terakhir, 12-18 Oktober 2011, di Surabaya yang berbunyi Panggilan Religius untuk Menjadi Mistikus dan Nabi di Tengah Dunia.

Penampilan Minister Provinsi bukan hanya tampak segar, tetapi juga cerah. Hal itu kiranya bukan hanya karena kondisi fisik dan rohaninya yang prima, namun mungkin juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya: beliau ditampilkan bersama P. Agus Surianto (imam diosesan Bogor yang adalah Direktur Umum OBOR, yang dalam acara ini berperan sebagai moderator, P. Alexius Andang L. Binawan SJ (imam Serikat Yesus, yang adalah Vicaris Episcopalis Keuskupan Agung Jakarta, yang diundang sebagai pembicara kedua).

Tugas Minister Provinsi dalam acara ini adalah memaparkan secara jelas dan gamblang isi buku, yang merupakan kumpulan karangan dan diedit oleh Sdr. Peter C. Aman OFM. Minister mempresentasikan gagasan buku dalam format Power Point. Jelas terlihat, bahwa Minister Provinsi membaca seluruh buku sehingga presentasinya menyeluruh. Dengan demikian para hadirin yang berjumlah 90-an orang dibekali dengan penamahanan yang memadai. Tidak ada karya dari para kontributor yang luput dari pembacaan beliau. Ketujuh kontributor adalah Th. Deshi Ramadhani SJ, T. Krispurwana Cahyadi SJ, Ignatius L. Madya Utama SJ, Martin Harun OFM, Adrianus Sunarko OFM, Peter C. Aman OFM, dan Eddy Kristiyanto OFM.

Setelah Minister Provinsi tampil, dihadirkanlah Andang L. Binawan. Ia nyaris tidak menyinggung dan tidak mengomentari buku yang dibedah dalam acara ini. Mungkin beliau hanya memenuhi harapan dan permintaan panitia penyelenggara acara ini. Beliau bercerita tentang pengolahan sampah, suatu lahan pelayanan yang dalam beberapa tahun terakhir ini menjadi minat dan concern beliau. Komentar ini tidak usah dianggap benar, seandainya orang melihat dua narasumber (Fransiskan dan Yesuit) lalu berkomentar, “Yesuit melaksanakan ide bagus yang secara teoretis dipresentasikan oleh Fransiskan.” Pasti juga tidak benar kalau dinyatakan, bahwa Fransiskan hanya dapat berteori, dan Yesuit itu spesialis dalam melaksanakan”.

Buku ini sesungguhnya merupakan kumpulan paper yang dibabarkan dalam Extension Course Teologi di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Paper-paper ini telah mengalami reedisi dan revisi, sehingga sangat layak untuk para pembaca. Harga buku ini relatif murah, Rp 37,500.00. Isi yang disingkapkan oleh buku ini juga abadi dan urgen, meskipun tidak menyatakan segala segi dan jenis eko-pastoral.

MENJELANG HARI BUMI

Bedah buku ini dilengkapi dengan syering sejumlah orang mudah yang peduli sampah. Kelompok ini (GROPHESS) berhasil memproduksi barang-barang kerajinan tangan dari usaha pemanfaatan ulang sampah. Anggota kelompok ini pun memberikan animasi dan motivasi pada orang-orang muda di paroki-paroki, yang intinya hendak memperlihatkan dan memberikan kesaksian konkret tentang bagaimana mencintai hidup yang berkualitas dengan merawat bumi serta mendayagunakan sampah.
Acara bedah buku ini dilakukan 2 (dua) hari sebelum HARI BUMI, 22 April, saat Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) meluncurkan Nota Pastoral yang berjudul Keterlibatan Gereja dalam Melestarikan Keutuhan Ciptaan. Nota Pastoral ini merupakan tindak lanjut dari keputusan Sidang Sinodal KWI, 5-15 November 2012. Kontributor reportase ini juga terlibat dalam penyusunan rancangan Nota Pastoral KWI 2013 tentang ekopastoral ini.

Pada akhir acara, semua pembicara diundang ke panggung untuk diberi cinderamata. Pembawa Acara tidak lupa mengundang penggagas acara kerjasama antara OBOR dan STF Driyarkara (terutama Program Studi Ilmu Teologi), yakni kontributor reportase ini, yang memperoleh gambar Paus Fransiskus yang sudah dipigurai.

Tantangan ke depan dilontarkan oleh Direktur Umum OBOR, “Perancang Acara ini perlu memikirkan penulisan buku yang memuat kiat-kiat bagaimana membumikan ide-ide bagus”. Tentu saja, tantangan ini bukannya tidak bisa dihadapi dan diwujudkan. Akan tetapi kalau kemudian ada kesulitan, itulah pertanda bagi perlunya kerjasama antar-bidang, antar-lembaga, antar-pribadi supaya ide (gagasan) bagus sungguh mampu mengabdi kehidupan dalam bentuknya yang paling nyata. ***

Kontributor: A. Eddy Kristiyanto, OFM

[/tab] [tab name=”Foto-foto”]
merangkul-ibu-bumi-1

P. Adrianus Sunarko OFM sedang mempresentasi.

merangkul-ibu-bumi-2

Para pembicara menerima cinderamata foto Paus Fransiskus

merangkul-ibu-bumi-3

Para pembicara dalam bedah buku “Iman yang Merangkul Bumi: Mempertanggungjawabkan Iman di Hadapan Persoalan Ekologis.”

[/tab] [end_tabset]

Post navigation

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *