Cibodas, OFM – Pada hari Senin hingga Rabu (08-10/01/2024), enam Saudara Muda yang telah menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) menjalani triduum di Cibodas, Jawa Barat. Mereka adalah Sdr. Milikhior Debristo Kasa, OFM,  Sdr. Agustinus Noning, OFM, Sdr. Agustinus Alanersase Vanri, OFM, Sdr. Hedwintus Klemensi Nurung, OFM, Sdr. Yohanes Yosef Freinademetz, OFM, dan Sdr. Mario D. Danggur, OFM. Kegiatan ini dipimpin oleh Sdr. Agustinus L. Nggame, OFM dengan tema “Orang Berdosa yang Dikasihi”. Tujuan utama diadakannya kegiatan triduum adalah mempersiapkan keenam Saudara Muda pasca TOP untuk mengikrarkan profesi kekal nanti.

Kegiatan triduum dimulai pada hari Senin petang, pkl. 16.30 WIB dalam ibadat sore dan perayaan ekaristi. Pada pertemuan pembuka, Sdr. Gusti membahas jadwal kegiatan serta empat tema yang akan menjadi fokus pembahasan. Keempat tema tersebut saling berkaitan. Tema kesombongan dikontraskan dengan kerendahan hati dan tema sikap rendah diri dikontraskan dengan tema sikap kepercayaan diri.

Para peserta triduum dan pemateri berfoto bersama. Mereka adalah (ki-ka): Sdr. Mario D. Danggur, OFM, Sdr. Milikhior Debristo Kasa, OFM, Sdr. Agustinus Nggame, OFM (mengenakan alba), Sdr. Agustinus Noning, OFM, Sdr. Yohanes Yosef Freinademetz, OFM, Sdr. Agustinus Alanersase Vanri, OFM, dan Sdr. Hedwintus Klemensi Nurung, OFM.

Pada hari Selasa, Sdr. Gusti menjelaskan tema kesombongan dan kerendahan hati. Kesombongan digambarkan sebagai sikap menempatkan diri sendiri (ego) sebagai pusat dan tujuan. Semua bakat dan kemampuan dalam diri dilihat sebagai modal untuk merendahkan dan meremehkan orang lain. Hal ini tampak dalam religiositas berciri Farisi. Dalam diri orang Farisi terdapat sikap munafik. Mereka tidak mengungkapkan identitas diri yang sebenarnya. Sekilas cara hidup mereka terarah pada Allah, tetapi sesungguhnya berorientasi pada diri sendiri. Kecenderungan menjadi seperti orang Farisi juga ada dalam diri kaum religius. Agar dapat membendung sikap tersebut dibutuhkan sikap rendah hati. Lawan dari kesombongan adalah kerendahan hati.

Pada hari Rabu, Sdr Gusti menjelaskan konsep rendah diri yang berlawanan dengan sikap percaya diri. Sikap rendah diri digambarkan sebagai kecenderungan memperkecil kualitas diri, menganggap kelemahan dan kesalahan sebagai pusat cerita, serta menjadikan diri sendiri sebagai sasaran untuk dikritik dan dianggap rendah. Sikap ini menjadi penghalang bagi seorang religius dalam menemukan dirinya di tengah relasi dengan persaudaraan dan masyarakat. Oleh karena itu, sikap ini dilawan dengan sikap kepercayaan diri. Setiap saudara mesti membangun rasa percaya terhadap diri sendiri untuk bisa melawan segala kelemahan.

Kegiatan triduum ditutup hari Rabu, pkl. 16.30 dalam ibadat sore dan perayaan ekaristi . Dalam perayaan ekaristi, para peserta diberi kesempatan menyampaikan refleksi singkat perihal panggilannya sebagai Fransiskan. Setiap saudara tanpa direncanakan menyajikan refleksi perihal pengakuan diri sebagai orang berdosa yang dikasihi oleh Allah.  “Allah memilih saya bukan karena lebih baik, lebih bertalenta, atau lebih cocok. Saya dipilih oleh Allah karena saya percaya Dia mencintai saya,” ungkap salah seorang peserta dalam sharingnya. Menu makanan khas tanah Sunda, udara sejuk Cibodas, dan pemandangan indah wilayah puncak mendukung rangkaian acara triduum dan refleksi panggilan keenam Saudara Muda.

Kontributor: Sdr. Allan Vanri OFM

Ed.: Sdr. Rio OFM

Tinggalkan Komentar