Pengalaman: Guru Terbaik?

“Pengalaman adalah guru terbaik”. Pepatah ini sering dikumandangkan dari zaman ke zaman. Ini membuktikan bahwa ungkapan klasik ini mengandung kebenaran yang diamini banyak orang. Di dalam pepatah ini ada pengakuan akan nilai dan makna penting pengalaman bagi hidup manusia. Lalu, apa itu pengalaman? Mengapa pengalaman memiliki nilai yang berharga bagi hidup manusia?

 

Komponen Aktif dan Komponen Pasif

Uraian John Dewey, dalam Democracy and Education (1916), bisa membantu kita menemukan hakekat pengalaman. Menurutnya, pengalaman dibentuk oleh dua komponen utama yang saling berhubungan satu sama lain. Ia menyebut dua komponen tersebut dengan istilah komponen aktif dan komponen pasif. Komponen aktif mengacu pada tindakan-tindakan yang kita lakukan terhadap sesuatu. Sedangkan komponen pasif berkaitan dengan refleksi yang kita terima sebagai konsekuensi dari tindakan yang kita lakukan.

Sebuah contoh konkret kiranya bisa membantu kita memahami lebih jelas uraian Dewey tentang pengalaman. Seorang anak, misalnya, tertarik melihat nyala lilin. Karena rasa ingin tahu, ia menjulurkan tangan dan menyentuh nyala api pada lilin tersebut. Ternyata nyala api membuat jarinya sakit. Secara spontan ia menjerit. Tindakan menjulurkan tangan ke nyala api merupakan komponen aktif. Sang anak melakukan tindakan tertentu terhadap realitas yang dilihatnya. Sementara rasa sakit yang diterimanya merupakan komponen pasif. Si anak merasakan akibat dari tindakan yang dilakukannya dan pada saat bersamaan timbul persepsi atau refleksi tentang realitas yang disentuhnya. Itulah pengalaman dalam bingkai pemikiran Dewey. Pengalaman merupakan interaksi timbal balik antara antara individu dan realitas di luar dirinya.

Interaksi timbal-balik antara individu dan realitas di sekitarnya membentuk pengalaman yang unik dalam dirinya. Foto: Seorang anak korban tsunami di Palu, Sulawesi Tengah (2018) membawa nasi bungkus yang dibagikan relawan.

 

Unsur Edukatif dan Formatif

Melihat contoh di atas, pengalaman jelas mengandung unsur edukatif dan formatif. Interaksi yang dibangun individu dengan realitas di sekitarnya menumbuhkan persepsi, menyentuh afeksi, dan memengaruhi sikap dan tingkah laku. Pengalaman menjadi sarana pembelajaran yang mendidik dan membentuk seorang manusia secara utuh, baik dari segi kognitif, afektif, maupun motorik. Secara kognitif, pengalaman membuat pengetahuan bertambah. Secara afektif, pengalaman merangsang emosi dan perasaan. Secara motorik, pengalaman memiliki daya yang mendorong orang untuk mengambil keputusan dan sikap tertentu di hadapan realitas yang dihadapi. Dalam pengertian ini kita bisa memahami alasan pengalaman disebut sebagai guru terbaik.

Mengingat pentingnya pengalaman bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia, maka, menurut Dewey, teori saja tidak pernah cukup. Teori hanya memiliki makna kalau didasarkan pada pengalaman. Ia mengatakan, “satu ons pengalaman lebih baik dari satu ton teori, karena hanya dalam pengalamanlah setiap teori memiliki makna yang dapat diverifikasi. Suatu pengalaman, suatu pengalaman yang sangat sederhana, mampu melahirkan dan membawa sejumlah besar teori (intelectual content), tetapi teori yang terpisah dari pengalaman bahkan tidak dapat dipahami sebagai teori. Ia cenderung menjadi sekadar rumusan verbal, seperangkat slogan yang digunakan untuk membuat pemikiran atau teori yang genuine menjadi tidak penting dan mustahil”.

Pengalaman makan yang sederhana dapat menjadi jalan untuk membangun kesadaran untuk merawat alam ciptaan. Foto: Sdr. Sulaiman, OFM memberikan refleksi singkat sebelum makan dalam salah satu kesempatan animasi guru-guru Yayasan St. Fransiskus, Jakarta.

Pengalaman Rohani: Perjumpaan dengan Tuhan

Dalam wilayah rohani, pengalaman juga menjadi guru terbaik. Pengalaman adalah faktor kunci yang menentukan kedalaman iman individu. Iman sejati dibangun di atas pengalaman perjumpaan antara individu dan Tuhan. Biasanya orang semakin yakin bahwa Tuhan itu ada jika dalam hidupnya ia sungguh mengalami dan menemukan karya Tuhan. Tanpa pengalaman seperti itu, iman menjadi abstrak dan kerdil.

Hubungan antara iman dan pengalaman itu bisa kita lihat dalam kesaksian Rasul Yohanes. Melalui suratnya, ia mengatakan, “apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup—itulah yang kami tuliskan kepada kamu (1Yoh. 1:1). Lebih lanjut ia juga mengatakan, “apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami”(1Yoh. 1:3).

Doa menjadi sarana membangun pengalaman iman akan Allah. Foto: Sdr. Martin Kowe, OFM dalam perayaan Kaul Kekal tahun 2018

Pengalaman tinggal bersama Yesus telah melengkapi Yohanes dengan pengetahuan yang mendalam tentang kebesaran Tuhan. Pengetahuan itu tidak saja berhenti pada tataran kognitif, tetapi menggugah perasaan dan menyentuh lubuk hatinya yang paling dalam. Selanjutnya, pengalaman itu membuat semangatnya bernyala-nyala untuk mewartakan Dia. Tanpa ragu ia memberikan diri, menggunakan segala indera dan kemampuan untuk bersaksi tentang Kristus. Itulah kekuatan pengalaman. Pengalaman membentuk karakter orang dalam beriman dan memberanikan orang untuk memberikan yang terbaik bagi Dia yang diimaninya.

Hubungan antara pengalaman dan iman juga bisa kita temukan dalam perjalanan hidup Santo Fransiskus dari Assisi. Dalam Wasiatnya, ia mengatakan, “beginilah Tuhan menganugerahkan kepadaku, saudara Fransiskus, untuk mulai melakukan pertobatan. Ketika aku dalam dosa, aku merasa amat muak melihat orang kusta. Tetapi Tuhan sendiri menghantar aku ke tengah mereka, dan aku merawat mereka penuh kasihan. Dan setelah aku meninggalkan mereka, apa yang tadinya terasa memuakkan, berubah bagiku menjadi kemanisan jiwa dan badan” (Was. 1-3).

Dalam teks di atas, Fransiskus sedang mensharingkan salah satu pengalaman yang menentukan dalam hidupnya. Pengalaman yang dimaksud adalah perjumpaannya dengan orang-orang kusta. Perjumpaan tersebut menjadi pengalaman puncak yang menggetarkan hatinya dan mengubah arah hidupnya. Melalui pengalaman berjumpa dengan orang kusta, Fransiskus menemukan kebesaran kasih Allah. Ia dahulu hidup dalam perbudakan dosa. Tetapi Allah sendiri menghantar dia masuk dalam sebuah pengalaman yang mentransformasi hidupnya secara total. Di sini sekali lagi kita menemukan makna penting pengalaman (akan Allah) bagi pertumbuhan iman.

Pengalaman iman (pengalaman akan Allah) bisa dialami manusia, karena Allah selalu mewahyukan Diri-Nya dalam sejarah hidup manusia. Ia membiarkan diri-Nya dijumpai oleh manusia. Sementara itu, manusia sendiri sudah dilengkapi dengan dimensi spiritual. Dimensi ini memberi peluang bagi dia untuk melampaui dirinya dan merasakan kehadiran Yang Ilahi di dalam peristiwa-peristiwa hidupnya. Karena itu, hanya dengan mengasah kemampuan spiritual ini, manusia bisa masuk dalam perjumpaan dengan Allah dan dengan demikian bertumbuh menjadi pribadi-pribadi beriman yang tangguh dan bijaksana.

Sdr. Gusti Nggame, OFM

Foto: FMC dan JPIC-OFM INdonesia