24 April – Beato Didakus Yosef dar Cadiz

24 April
Beato Didakus Yosef dar Cadiz
Imam, Ordo I, 1743 – 1801

didacus-josef-dari-cadiz-2

RIWAYAT HIDUPNYA
Orang Kapusin yang sederhana ini, yang di sekolah tidak dapat memperoleh kemajuan apa pun, “si dungu dari Cadiz” ini, kemudian hari dikagumi dunia sebagai penyelamat Iman Spanyol, sebagai Paulus yang kedua, dan sebagai rasul abad ini. Garis keturunannya berasal dari raja-raja Visigoth. Setelah dikenakannya jubah St. Fransiskus bersama dengan para Kapusin di Sevillia, ditahbiskan menjadi imam dan mempersiapkan diri dengan menjalani hidup suci, dia diberi tugas untuk berkhotbah. Semua orang terkagum-kagum pada kekuatan dan keindahan kata-katanya, yang mempesona para pendengarnya dan meninggalkan pengaruh mendalam pada kehidupan mereka. Tetapi yang paling terheran-heran dari semuanya adalah seorang Dominikan, Antonio Querero, rekan sesama mahasiswa dari Didakus, yang mengetahui betapa sulitnya dia itu dalam studinya. Akan tetapi masalah itu pada suatu hari telah dipecahkan oleh seorang anak: sewaktu Didakus sedang berkhotbah di gereja, seorang anak berteriak dengan kerasnya: “Ibu, ibu, lihatlah, ada seekor burung merpati hinggap pada bahu Pater Didakus! Saya juga dapat berkhotbah seperti itu, bila saja seekor burung merpati membisikkan kepadaku semua yang harus saya katakan!”

Dan itulah rahasianya. Karena dia rendah hati dan memiliki kebajikan, Roh Kudus telah mengubah orang yang tidak terpelajar ini menjadi pengkhotbah yang paling tersohor di Spanyol. Namun betapa Pater Didakus telah berdoa sebelum dia berkhotbah! Bagaimana dia menyiksa diri bahkan sampai berdarah-darah, supaya belas kasih Tuhan turun atas umat-Nya.

Sekali peristiwa, ketika atasannya menegur dia karena hidupnya yang keras itu, orang kudus itu pun menjawab: “Ah, Bapa, dosa-dosaku dan dosa-dosa umat mendorong saya untuk melakukan hal itu. Mereka yang telah diberi tugas mempertobatkan orang-orang, harus ingat bahwa Tuhan telah meletakkan beban dosa-dosa para pendosa itu pada diri mereka. Dengan melalui ulah tapa kita, kita haruslah memberikan silih atas dosa-dosa sesama kita dan dengan jalan itu menghindarkan kita sendiri dan diri mereka dari kematian kekal. Tidaklah akan menjadi terlalu besar, bila kita menumpahkan darah sampai tetes terakhir demi pertobatan mereka.”

Dengan sikap seperti itu, dia menjelajahi seantero Spanyol dan menghembuskan hidup Katolik baru di mana pun dia pergi. Dengan cara yang sangat jelas dia mengkhotbahkan pujian pada Trtunggal Yang Mahakudus dan Santa Perawan Maria.

Dia pun tak terluput dari ungkapan-ungkapan penghormatan. Dia diangkat menjadi konsultor Gereja yang luar biasa, penguji sinodal hampir dalam semua keuskupan di Spanyol, anggota kanon kehormatan, doktor kehormatan di berbagai universitas. Dia meninggal pada 1801, dalam usia 58 tahun kehidupannya yang begitu terberkati. Dia pun mendapatkan gelar beatus dari Sri Paus Leo XIII.

PERIHAL PENTINGNYA ULAH TOBAT
1. Renungkanlah ulah tobat yang berat dari Beato Didakus. Kita tidaklah perlu, atau diijinkan meniru dia dalam hal ini. Tetapi baiklah bila kita berjuang untuk memelihara semangat yang memampukannya untuk melaksanakan hal itu. Tidaklah tanpa alasan bahwa konsili suci Trente menerangkan: “Seluruh kehidupan seorang Kristen hendaklah merupakan kehidupan ulah tobat yang terus menerus.” Kita adalah pendosa, dan syarat pertama dari sebuah ulah tobat yang sejati adalah menerima diri, mengakui diri sebagai pendosa dan menyesali pelanggaran-pelanggaran kita. – Apakah engkau sekurang-kurangnya memiliki penyesalan semacam ini?

2. Renungkanlah desakan dari Tuhan kita: “Kalau kamu tidak bertobat, maka kamu semua akan binasa” (Luk 13:5), yaitu: mati dengan tiba-tiba. Tuhan kita mengatakan kata-kata ini sesudah dilaporkan kepada-Nya bahwa sejumlah orang telah ditimpa kematian secara tiba-tiba. Tetapi siapakah orangnya yang akan terkejutakan adanya dosa-dosa pada dirinya,mendengar ancaman kematian yang tiba-tiba itu? Karena itu, marilah kita memperhatikan juga perkataan-Nya yang lain: “Hari ini, bila engkau mendengarkan suara-Nya, janganlah engkau bertegar hati” (Ibr 3:8). – Bukankah engkau seharusnya sudah sejak lama telah mengikuti panggilan untuk bertobat itu?

3. Renungkanlah ulah tobat sebagai penyilih atlas dosa-dosa orang-orang lain. Betapa subur berbuahnya ulah tobat yang telah dibebankan Beato Didakus pada dirinya sendiri supaya dapat memberikan silih bagi dosa-dosa umatnya. Karena itu, khotbah-khotbahnya telah menghasilkan “buah-buah yang patut bagi pertobatan” (Luk 3:8). Dia yang dengan sungguh-sungguh merenungkan betapa seringnya Tuhan setiap hari dihinakan, akan menganggap hanyalah sebagai beban yang manis, untuk bermati-raga sedikit dalam hidup dengan jalan ulah tobat. – Apakah engkau pernah berpikir untuk melakukan hal itu? Pada hari-hari Jumat? Selama masa Pra-paskah? Selama pekan-pekan pertobatan?

DOA GEREJA
Ya Tuhan, yang telah menganugerahi Pengaku-iman-Mu Beato Didakus, dengan pengetahuan para kudus dan melakukan karya-karya mukjizat melalui dia demi keselamatan umatnya, anugerahilah kami berkat pengantaraannya, supaya kami mampu memikirkan hal-hal yang benar dan adil, sehingga kami dapat sampai dengan aman dalam Kerajaan Kemuliaan-Mu. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Sumber: The Franciscan Book of Saints, ed. by Marion Habig, OFM, © 1959 Franciscan Herald Press. Diterjemahkan oleh: Alfons S. Suhardi, OFM.