27 November – St. Fransiskus Antonius Fasini

27 November
St. Fransiskus Antonius Fasini

1681-1742

Dilahirkan pada 1681 di Lucerna, Italia Selatan, Fransiskus Antonius adalah anak sebuah keluarga petani yang miskin; namun dia adalah anak yang cemerlang dan menerima pendidikan yang baik dari para Fransiskan Konventual di kota kelahirannya. Ketika dia berumur 14 tahun, dia menerima jubah St. Fransiskus di kalangan para Konventual. Pada tahun 1705 dia ditahbiskan menjadi imam. Kemudian dia dikirim ke Sagro Convento, di samping basilika di Asisi di mana St. Fransiskus dimakamkan, untuk melanjutkan studinya. Dua tahun kemudian dia menerima tingkat doktoral dalam bidang teologi, dan kemudian diangkat menjadi pengajar filsafat di kolese yang dipimpin oleh para Konventual di kota kelahirannya. Kemudian secara berturut-turut dia diangkat menjadi pimpinan bidang studi, guardian dan provinsial, dan jabatan terakhir ini dijabatnya dari 1721 sampai 1723. Sesudah itu dia melayani sebagai magister para novis dan kemudian sebagai pastor dari gereja St. Fransiskus di Lucerna. Jabatan sebagai uskup pernah ditawarkan kepadanya, tetapi dia menolaknya.

Dari proses beatifikasinya, kita dapat tahu bahwa Fransiskus Antonius itu seorang yang rajin belajar, bersemangat dalam ulah kesalehan, selalu siap menaati atasannya, tekun dalam meditasi dan sangat cermat dalam menunaikan segala macam tugasnya. Dia juga menjalankan mati-raga dan menjalani latihan pertobatan bahkan sampai berdarah-darah. Dari masa mudanya dia adalah seorang “malaikat yang menjelma, lebih nampak sebagai malaikat daripada sebagai manusia.”

Di antara devosi-devosi yang disukainya adalah terutama suatu cinta yang mesra bagi Bunda Allah yang Tak Bernoda, perasaan keanakan terhadap Kanak-kanak Yesus dan devosi yang hangat berkobar, juga adorasi pada malam hari, terhadap Sakramen yang Mahakudus. Sekali peristiwa, ketika dia sedang diserap dalam doa, seseorang yang kebetulan berada di gereja itu mendengar suatu suara berkata: “Imam ini sangat banyak berdoa bagi umatnya.”

Sebagai imam dia juga menjadi pengkhotbah yang fasih mengesankan, pencinta orang miskin, dan sahabat bagi mereka yang tak beruntung. Dia adalah seorang misionaris, seorang pemimpin retret dan pengkhotbah masa Prapaskah. Berjam-jam dia dapat duduk di kamar pengakuan, mendengarkan dan mengampuni dosa-dosa para penitennya, memberi penghiburan mereka yang menderita, memberi peringatan pada hati yang telah mengeras. Dia menghabiskan kebanyakan waktunya untuk mengunjungi orang sakit, yatim-piatu dan orang-orang dalam tawanan. Sebagai pastor dia sungguh seorang bapa sejati bagi umatnya.

Setelah 35 tahun dalam imamatnya dan menjalani hidup dalam pertobatan, dalam kesatuan dengan Allah dan bekerja giat demi keselamatan jiwa-jiwa, Tuhan memanggil Pater Fransiskus Antonius kepada diri-Nya pada 29 November 1742. Pada hari itu orang-orang kota Lucera bergegas-gegas pergi ke gereja St. Fransiskus, berteriak menangis seperti anak kecil atas kematian St. Antonius dari Padua, “Sang Santo meninggal dunia! Sang Santo meninggal dunia!” Dan selama 200 tahun sesudahnya, orang-orang tetap berlutut dan berdoa pada makamnya. Kasus beatifikasinya dimasukkan ke Roma pada 1832; dan  pada 1951 Paus Pius XII dengan resmi dan meriah memasukkannya di antara para Beato.

DOA GEREJA

Kami mohon kepada-Mu, ya Tuhan, bahwa umat-Mu yang setia boleh selalu bergembira dalam menghormat hambamu Fransiskus yang terberkati ini bersama semua para Kudus dan semoga kami dapat memperoleh bantuan berkat doa-doa mereka yang tak putus-putusnya. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Sumber: The Franciscan Book of Saints, ed. by Marion Habig, ofm., © 1959 Franciscan Herald Press. Diterjemahkan oleh: Alfons S. Suhardi, OFM.

Dirayakan juga pada 27 November: Pesta penampakan Bunda Maria kepada St. Katarina Laboure. Pada 1830-31 Bunda Maria menampakkan diri empat kali kepada St. Katarina Laboure di Paris dan memerintahkannya untuk membuat Medali yang Menakjubkan. Pada kesempatan-kesempatan itu, Bunda Maria memperlihatkan dirinya kepada St. Katarina sebagai Dikandung Tanpa Noda dan bahwa Medali Menakjubkan itu sungguh-sungguh Medali Maria Dikandung Tanpa Noda. Pada medali itu terdapat kata-kata dari doa kecil yang Bunda Maria sendiri mengharapkan kita mengatakannya, ”Ya Bunda Maria, yang dikandung tanpa noda, doakanlah kami yang berlindung padamu.” Pesta ini masih dirayakan oleh para Konventual.