Sebuah Model Umat Allah Sepanjang Masa

Nas-nas Kitab Yesaya yang biasanya diistilahkan sebagai Lagu-lagu “Ebed Yahweh” atau “Hamba Tuhan” dengan disengaja dipilih untuk dibahas secara mendalam dan terinci. Lagu-lagu tersebut menjadi bagian-bagian Perjanjian Lama yang berperan besar dalam tradisi Kristen, mulai dengan Perjanjian Baru. Nas-nas itu dibaca dengan kacamata Kristen, bahkan kristologik. Hanya baiklah sejak awal mula diingat bahwa caranya tradisi Kristen awal dan tradisi spiritual Kristen selanjutnya membaca nas-nas tersebut tidak dimaksud sebagai “eksegese ilmiah”. Eksegese itu mencari mana maksud nas-nas itu dalam konteks historiknya dan dalam konteks Kitab Suci sebagaimana adanya. Pada hal tradisi Kristen membaca teks-teks itu dalam konteks iman kepercayaan Kristen kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Pendekatan itu paling terasa dalam Perjanjian Baru dan tradisi liturgik selanjutnya.

Perjanjian Baru langsung atau tidak langsung, lebih atau kurang jelas, berulang kali mengutip atau menyinggung Lagu-lagu Hamba Tuhan itu. Jadi umat Kristen perdana sangat gemar akan nas-nas itu dan boleh jadi nas-nas itu dicantumkan dalam suatu koleksi nas-nas Alkitab yang tersedia bagi umat perdana itu. Memang ada kemungkinan besar bahwa selama abad I tersedialah suatu “bunga rampai”, suatu antologia teks-teks Alkitab bagi pemakaian umat Kristen. Barangkali ada gunanya mendaftarkan teks-teks Perjanjian Baru yang secara eksplisit mengutip nas-nas Yes tersebut (rangkaian pertama) atau lebih kurang jelas me-nyinggungnya (rangkaian kedua).

Alm Pater Cletus Groenen OFM menuangkan buah pemikirannya dalam tulisan yang diketik ulang dan dirapihkan oleh P Alfons Suhardi OFM dalam format e-book untuk kita nikmati. Silahkan klik tombol di bawah.

 

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *