Page 446 - Proprum Fransiskan
P. 446
445
Pertama-tama mengenai empat perkara terakhir, yang
tidak dipedulikan lagi. Segala anugerah Allah, bahkan
segala yang ditanggung Putera Allah di dalam sengsara-
Nya yang pahit untuk kita, dengan sengaja dilupakan.
Kewajiban dan tugas masing-masing masyarakat dijalan-
kan dengan acuh tak acuh. Terhadap bahaya-bahaya
yang mengancam kita dari segala sudut, tidak ada
tindakan pencegah. Sebab oleh karena semuanya itu
dunia penuh dengan kelaliman, maka dengan tepatnya
nabi Yeremia mengeluh: “Sunyi sepi sekarang segenap
negeri itu!”
Adakah obat mujarab terhadap kelaliman Itu? Sambil
bersujud di depan kaki mereka, kepada semua pejabat
tinggi Gereja, semua pastor dan imam dan pelayan Allah
lainnya, saya ingin menunjukkan bahwa obat yang
diharapkan itu sebagian sudah tersedia, yaitu apa yang
disebut kebaktian “jalan salib”. Jika kebaktian itu, oleh
kerajinan dan kegiatan para imam merembes di paroki
dan gereja masing-masing, niscaya akan mmerupakan
tanggul yang amat kokoh terhadap cacat-cacat yang
merambat itu. Dan jalan salib itu melimpahi semua
orang yang dengan bakti merenungkan sengsara dan
cinta kasih Kristus, dengan banyak keutamaan.
Betapa banyaknya penerangan yang berguna bagi budi,
betapa tulusnya keremukan hati, betapa tak terkalahkan
keteguhan jiwa akan dibangkitkan oleh renungan yug
tekun tentang sengsara amat pahit sang Putera Allah itu.
Praktek jalan salib sehari-hari mengajarkan kepada saya,
bahwa oleh jenis doa ini budi pekerti manusia, lebih
cepat berpaling ke arah yang baik.

