Page 403 - Proprum Fransiskan
P. 403
402
dirinya sendiri dan bagi orang-orang lain, mereka harus
bergaul secara terhormat, dan sebagai terang dunia,
mereka harus dengan perasaan halus menerangi orang-
orang lain. Dari Kristus Yesus, guru yang mulia itu,
mereka harus memahami apa yang dengan suara lantang
dikatakan-Nya bukan hanya kepada para Rasul, tetapi
juga kepada para Imam dan para rohaniwan lain yang
menggantikan mereka, yaitu: “Kamu adalah garam
dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia
diasinkan? Tidak ada lagi gunanya, selain dibuang dan
diinjak orang.” (Mat 5:13). Patut diinjak seperti kotoran
tak berhargalah rohaniwan yang mesum dan bejat, yang
tenggelam dalam kekotoran cacat-cacatnya, dan terikat
oleh belenggu dosa itu. Sehingga ia dianggap tak bergu-
na sedikit pun, bagi dirinya sendiri atau orang lain.
Seperti dikatakan Paus Gregorius: “Orang yang hidup-
nya hina, juga kotbahnya dihinakan.”
“Penatua-penatua yang baik pimpinannya, patut
dihormati dua kali lipat: terutama mereka yang dengan
jerih-payah berkhotbah dan mengajar” (1Flm 5:17).
Yaitu para imam, yang hidup pantas, patut mendapat
penghormatan dua kali lipat, baik materi maupun
pribadi, entah yang bersifat sementara maupun yang
bersifat pribadi. Sebab walaupun mereka tinggal di bumi
dan tunduk kepada kebutuhan-kebutuhan alam seperti
manusia lainnya, namun mereka berusaha dengan penuh
keprihatinan, bergaul dengan malaikat-malaikat di surga,
agar mereka, selaku pelayan-pelayan yang bijak, berke-
nan kepada Raja. Oleh karena itu “laksana matahari yang
terbit di atas gunung Tuhan” (Bdk. Sir 26:16). “Kamu

