Page 452 - Proprum Fransiskan
P. 452

451
        an, yang kalau terus makan akan lebih mengalami mual
        dari  pada  rasa  nikmat,  demikian  pula  halnya  pada
        dengan  jiwa  anak  tangga  kasih  ini,  terhadap  segala
        keduniawian.
        Anak  tangga  yang  ke  empat  ialah  kemabukan,  yang
        timbul  dari  kekenyangan.  Adapun  kemabukan  ialah,
        bahwasanya  seseorang  mengasihi  Allah  sedemikian
        rupa, sehingga ia tidak hanya enggan akan penghiburan,
        tetapi  malah  menyukai  dan  mencari  kesusahan  sebagai
        ganti penghiburan; demi kasihnya akan sang kekasih, ia
        bersukacita  atas  hukuman,  penghinaan  dan  deraan
        seperti rasul Paulus (bdk. 2 Kor 12:10).
        Anak  tangga  ke  lima ialah  kepastian,  yang  timbul  dari
        kemabukan.  Karena  jiwa  merasa,  bahwa  ia  mengasihi
        Allah  sedemikian  sehingga  demi  Dia  ia  rela
        menanggung  rugi  dan  penghinaan,  maka  ia  tinggalkan
        ketakutan;  lalu  timbul  dalam  jiwa  harapan  yang  kuat
        akan  bantuan  Allah,  sehingga  ia  percaya,  bahwa  tiada
        sesuatu pun yang dapat memisahkan dia dari Allah. Pada
        anak  tangga  ini,  berdirilah  sang  rasul,  yang  berkata:
        “Siapakah  yang  dapat  memisahkan  kita  dari  kasih
        Kristus?” (Rom 8:35).
        Anak tangga ke enam ialah ketentraman hati yang sejati
        dan sempurna; dalam dia bersemayam ketentraman dan
        kepuasan  yang  begitu  rupa,  sehingga  jiwa  agaknya
        bertekun  dalam  keheningan  dan  damai,  seakan-akan
        tinggal dalam bahtera Nuh, di mana ia tidak dicemaskan
        oleh  hal  apa  pun  juga.  Sebab,  siapa  gerangan  dapat
        mencemaskan  jiwa  yang  tidak  lagi  digelisahkan  oleh
        rangsangan  hawa  nafsu,  tidak  dikejar-kejar  oleh  sengat
   447   448   449   450   451   452   453   454   455   456   457