Page 28 - Santa Klara dan Hal-Ihwal Warisan Rohaninya
P. 28
Bagian I: Pengantar Tulisan-tulisan St. Klara
menjelang akhir hidupnya menyusun sebuah dokumen yang selayaknya
disebut “wasiat rohaninya”. Istilah “wasiat” tentu saja tidak muncul dalam
tulisan ini, seperti dalam wasiat Fransiskus, namun dokumen itu jelas di-
maksudkan sebagai “kehendak dan pernyataan terakhir”. Cukuplah melihat
kata penutup tulisan itu, yang berkata: “Aku meninggalkan semuanya itu
secara tertulis, supaya lebih baik mesti dilaksanakan. ” Disusul semacam ber-
kat.
Tidak ada berita bahwa Klara pernah menulis dokumen semacam itu. Tidak
diketahui juga kapan persis dikarang. Sebuah naskah tua yang berdekatan
dengan masa Klara juga tidak ada, paling tidak belum ditemukan. Teks per-
tama kalinya dicetak pada tahun 1626, yang memakai salah satu naskah.
Tetapi naskah itu hilang juga. Meskipun ada sementara ahli yang pernah me-
ragukan kalau wasiat Klara benar-benar karangan Klara sendiri, namun
keraguan itu kurang berdasar. Isi dokumen menyingkapkan Klara.
Dokumen itu tersusun dengan baik dan lancar, malah secara“logis” sekali.
Bahasa latinnya pun lancar dan baik. Jelaslah halnya dipikirkan masak-ma-
sak. Betapa pun “hangatnya” wasiat itu, namun bukan suatu luapan hati
secara sepontan. Kehalusan dokumen itu jangan dipakai untuk meragukan
keasliannya, melainkan sebagai bukti kematangan kepribadian Klara sebagai
wanita religius yang sampai berumur 60 tahun berhasil mempertahankan
dan mematangkan cita-cita dan semangatnya semula.
Nada dalam dokumen itu tenang dan tenteram saja. Seolah-olah pengalaman
pahit tidak meninggalkan bekas di hati Klara. Maka wasiat itu merupakan
kesaksian paling bulat dan menyeluruh tentang diri Klara serta apa yang
menggerakkannya. Dokumen itu tidak terpengaruh oleh unsur-unsur luar,
seperti halnya dengan Anggaran Dasar karangan Klara, tidak pula merupa-
kan suatu tulisan fragmentaris, seperti surat-surat Klara. Dalam dokumen itu
ditemukan sebuah kesaksian pribadi yang dengannya Klara menyingkapkan
kematangan kepribadiannya.
Dengan nada tenang dan nostalgia sedikit, Klara bercerita tentang panggil-
annya dan relasi hangatnya dengan Fransiskus. Ia pun mengungkapkan pen-
galamannya semula. Semuanya diliputi nada rasa syukur yang mendalam
dan hangat serta mengharukan hati. Dengan tenang, tanpa menyebut nama
atau menyakiti hati orang, Klara bercerita tentang perjuangannya membela
26

