Page 234 - Proprum Fransiskan
P. 234

233
        Bacaan II

        Pembacaan  dari  naskah  Beata  Maria  Magdalena
        Martinengo “Perihal kerendahan hati”.
        Jiwa rendah hati turut serta dalam kekudusan Allah.
        Menurut  hakikatnya,  Allah  adalah  kudus.  Ia  adalah
        kekudusan  itu  sendiri.  Rupa-rupanya  oleh  karena  sifat
        inilah ia hendaknya lebih-lebih dihormati dan dipuji, dari
        pada  karena  alasan  lainnya.  Ini  kita  lihat  pada  roh-roh
        tertinggi,  yang  tak  kunjung  berhenti  menyanyikan:
        “Kudus,  kudus,  kudus”.  Mereka  pun  menyembah
        kekudusan Ilahi itu dengan keheningan yang mendalam,
        dan  dengan  mengepak-ngepakkan  sayapnya  makin
        bernyala-nyalalah  kasih  mereka  kepada-Nya.  Dengan
        muka berselubung mereka mengakui, bahwa mereka tak
        sanggup memahami, mengasihi atau memuji kekudusan-
        Nya  lebih  lanjut.  Namun  dengan  tak  kunjung  berhenti
        mereka mengakui kekudusan-Nya itu.
        Demikian pula yang berlaku pada jiwa rendah hati yang
        ambil  bagian  dalam  kekudusan  Ilahi.  Pertama,  jiwa
        rendah hati mengarahkan matanya kepada kemanusiaan
        terkudus Yesus Kristus. Allah Manusia: di dalam-Nya ia
        memandang  puncak  segala  kekudusan  termulia.  Ia
        mencamkan  gambar-Nya  di  dalam  batin,  lalu
        membayangkan yang dalam batin itu di depan matanya,
        untuk  meneladan-Nya  dan  melaksanakan  apa  yang
        dibayangkannya  itu  dalam  perbuatan;  dan  dengan
        meneladan  Yesus  Kristus,  ia  membaharui  dirinya  lahir
        batin.  Dengan  membayangkan  teladan  Ilahi  di  depan
        mata  dan  dengan  mencamkannya  di  dalam  hati,  maka
   229   230   231   232   233   234   235   236   237   238   239