Page 235 - Proprum Fransiskan
P. 235

234
        lambat  laun  jiwa  menjadi  suci,  dan  dari  hari  ke  hari
        menembusi  dengan  pandangan  yang  makin  sederhana,
        iamelihat  kekudusan  yang  baru  dan  ia  pun  akan  lebih
        bernyala-nyala  untuk  meneladan  kekudusan  itu.  Tetapi
        karena tidak dihalangi oleh “ketiadaan” dirinya sendiri,
        ia lalu melepaskan dirinya sendiri serta segala bayangan
        dan  gambaran.  Lalu  dengan  dilepaskannya  dari  dirinya
        sendiri,  ia  masuk  dalam  Allah,  yang  menyerap  dia
        seluruhnya  dan  menyicikannya  dengan  kekudusan-Nya
        sendiri.
        Allah  sendiri  ingin,  supaya  kita  mencapai  kekudusan
        yang  luhur.  Keinginan  itu  dinyatakan-Nya  dengan
        berkata: “Haruslah kamu kudus, sebab Aku ini Kudus”
        (Im 11:44). Dengan mata dan tangan terangkat, sebelum
        sengsara-Nya,  Yesus telah  mohon kepada  Bapa:  “Bapa
        yang  Kudus,  kuduskanlah  mereka  dalam  kebennaran”
        (Yoh  17:17).  Bangkitlah, hai  jiwaku,  dan  benamkanlah
        dirimu  di  dalam  danau  kekudusan,  untuk  tidak  lagi
        meninggalkannya,  agar  engkau  sendiri  menjadi  kudus
        oleh kekudusan Ilahi itu.
        Aku tidak suka akan pujian, yang diberikan kepada suatu
        ciptaan,  entah  ia  bercahaya  karena  suatu  kebajikan,
        misalnya pertarakan atau kelemah-lembutan, atau karena
        ia  nampaknya  berkelakuan  rendah  hati  dalam  segala-
        galanya. Sebab aku berpendapat, bahwa semakin jiwa itu
        suci, semakin ia dikosongkan dari dirinya; sebab dalam
        pengosongan  itu,  ia  akan  lebih  ambil  bagian  dalam
        kekudusan Ilahi.
        Namun,  dengan  sesungguhnya,  ya  Tuhanku,  hanya
        Engkaulah  yang  Kudus!  Engkau,  ya  Tuhan,  buatlah
   230   231   232   233   234   235   236   237   238   239   240