Page 26 - Proprum Fransiskan
P. 26
25
secara batiniah, sungguh patut diinginkan. Dilihat secara
lahiriah belaka, salib nampak sebagai kayu palang maut,
tetapi dipandang secara batiniah, nampaklah misteri salib
itu sebagai pohon kehidupan, justru karena Dia yang
bergantung padanya. Memang salib adalah sumber
kehidupan dan memberikan hidup karena ia mencu-
rahkan rahmat. Dalam surat kepada umat di Roma ada
tertulis: “Upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah
ialah hidup kekal” (Rom 6:23). Salib adalah kayu yang
memberikan hidup berahmat; dengan itu kita diperbarui
dalam Kristus, diperbaharui oleh embun rahmat
pertobatan.
Kayu manakah yang memiliki daya yang dapat memba-
wa orang dari kelayuan kepada kesuburan, dan dari
kematian kepada kehidupan? Bukankah kayu salib
Kristus semata-mata? Mengapa Putra Allah menderita
sengsara hanya untuk bangsa manusia dan bukan untuk
para malaikat? Sebab hanya manusialah .... yang dapat
menerima pertobatan dan bukan malaikat. Nah, manusia
adalah kayu yang oleh kelembaban air, yaitu oleh karena
pertobatan, dapat sampai kepada kesuburan.
Jadi salib adalah kayu yang memberikan hidup berah-
mat. Oleh karena itulah kita yang begitu sering
mengalami kematian akibat dosa kita, mau merindukan
kayu itu; kita mau bermatiraga dan menderita bersama
Kristus. Rasul Petrus berkata: “Karena Kristus telah
menderita penderitaan badani, kamu pun harus juga
mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian”
(1 Ptr 4:1). Jika kita tidak melakukan ulah tapa maka aku
tidak melihat kemungkinan,bagaimana kita dapat

