Page 143 - Proprum Fransiskan
P. 143

142
        Meskipun Maria Anna berkembang dalam kesucian yang
        utuh,  namun  ia  hendak  memulihkan  dosa-dosa,  bukan
        dosanya  sendiri,  melainkan  dosa  orang-orang  lain.  Ia
        memperlemah tubuh keperawanannya dengan ulah tapa
        sukarela, dan lebih-lebih dengan berpuasa, menyalibkan
        diri  sendiri  dengan  memakai  baju  bulu  domba  yang
        kasar  dan  dengan  mencambuki  tubuhnya  dengan  keras
        hingga berdarah. Dengan beban salib berat ia melakukan
        jalan salib Kristus yang bersengsara itu dari perhentian
        ke perhentian, dan merenungkan dengan saleh sengsara
        Penebus  Ilahi  serta  membalas  cinta  Kristus  yang
        mengasihi  itu sambil  mencucurkan  air mata  berlimpah.
        Ia hanya tidur pendek, kadang-kadang di lantai, kadang-
        kadang  di  papan  saja  sedang  bagian  terpanjang  dari
        malam  hari  dihabiskannya  sambil  berlutut  mengangkat
        budi  dan  jiwanya  kepada  Allah,  memanjatkan  doa
        permohonan dan merenungkan hal-hal surgawi.
        Dewasa ini khususnya, tidak semua orang dapat mema-
        hami hidup berulah tapa itu sebagaimana mestinya, dan
        tidak  banyak  orang  menghargai  itu  sebagaimana
        mestinya.  Bahkan,  kini  banyak  orang  meremehkannya
        atau  menjijikkannya,  dan  melalaikan  sama  sekali.
        Namun,  hendaklah  diingat,  bahwa  sesudah  dosa  Adam
        yang celaka itu, kita sekalian ditulari noda asal, sehingga
        kita  mudah  cenderung  kepada  kenikmatan  dosa,  maka
        pertobatan  itu  bagi  kita  sungguh  perlu,  sesuai  dengan
        sabda Injil: “Jika kamu tidak bertobat, kamu semua akan
        binasa atas cara demikian.” (Luk 13:3). Sebab tidak ada
        sesuatu  pun  yang  lebih  mampu  mengekang  nafsu
   138   139   140   141   142   143   144   145   146   147   148