Page 178 - Proprum Fransiskan
P. 178
177
tempat menimbun lapukan gambut, yang banyak dipakai
di situ. Di ruang itu ada dua buah balok; yang satu
memalang dan panjang, yang lain lebih pendek. Balok-
balok itu dianggap cocok oleh para serdadu untuk
menggantung para tawanan dan mengikat mereka
padanya. Karena itulah para tawanan itu dibawa ke sana.
Ketika sedang menanti maut yang harus mereka
tanggung demi iman Katolik, para tawanan itu saling
meneguhkan satu sama lain dalam Tuhan. Di sana
mereka menasihati satu sama lain, masing-masing sesuai
dengan rahmat yang diberikan oleh Allah, agar dengan
tabah menanggung kematian sebagai martir, memper-
kuat satu sama lain dalam harapan yang pasti akan
memperoleh kerajaan surga serta ganjaran kekal. Segera
pakaian mereka dilucuti, sehingga semuanya telanjang.
Adapun yang pertama-tama menjalani hukuman mati
adalah yang terhormat pater gardian. Ia merangkul dan
memeluk semua saudara satu per satu, menyemangati
mereka dengan kata-kata terakhir, dan meminta dengan
sangat supaya demi cinta kasih persaudaraan yang telah
terjalin sepanjang hidup, mereka dengan teguh dan tabah
berjuang hingga nafas penghabisan demi iman Katolik,
tetap teguh dalam iman dan satu dalam roh, sampai mati
dan agar mereka yang telah saling terikat oleh cinta
kasih di dalam satu tarekat, jangan sampai terpisahkan
pada saat terakhir. Maka sudah amat dekatlah saatnya
bagi mereka untuk menerima dari tangan Tuhan palma
kemenangan, yang amat diinginkan dan amat didam-
bakan itu, yaitu mahkota kabahagiaan kekal. Karangan
bunga kemenangan yang sudah melayang-layang di atas

