Page 175 - Proprum Fransiskan
P. 175
174
“Sudah lebih dari tiga puluh tahun yang lalu”, jawab
uskup itu. Hakim menyambung: “Untuk apa engkau
menggelisahkan bangsa kami atau apa gunanya engkau
mempropagandakan agamamu?” “Kami tidak meng-
ganggu seorang pun,” sahutnya, “Bahkan kami telah
berusaha berbuat baik kepada banyak orang.” “Itu tidak
benar,” tukas hakim itu, “Engkau sudah sangat meru-
gikan bangsa kami; dari sebab itu sekarang kalian semua
kujatuhi hukuman mati.” “Jika engkau menghukum mati
kami,” sahut uskup itu, “maka kejahatanmu ini tidak
terlepas dari hukuman.”
Mendengar itu, beranglah hakim itu dan menetak sampai
dua kali dada uskup itu dan memerintahkan untuk
memukul jatuh mereka semua dan menghabisi nyawa
mereka. Baru saja hakim menyelesaikan ucapannya,
serdadu-serdadu dan kaum Boxer serentak maju dengan
berteriak dan gemertak senjata; masing-masing menyer-
bu korban yang terdekat dan dengan pedang terhunus
memukuli mereka dan memenggal kepala para martir
dan menyayati tubuhnya.
Sungguh suatu tontonan yang mengerikan dan keji!
Sehabis pembantaian itu tubuh mereka dilucuti pakai-
annya dan dipertontonkan untuk dicemoohkan. Pada
malam hari jenazah mereka diangkut ke pintu gerbang
utara pada tembok kota. Di situ mereka dibuang
bertumpuk dalam satu lubang dan tinggal tetap tak
terkubur tiga hari lamanya. Akhirnya dikebumikan di
pekuburan umum di luar kota, yang biasanya dipakai
untuk menguburkan para penjahat dan pengemis.

