Page 194 - Proprum Fransiskan
P. 194
193
kadang ia minta didaraskan mazmur “Pujilah Tuhan, hai
jiwaku!” dan “Luhurkanlah Tuhan, hai hatiku” (Mzm
146:1; 103). Dan dalam pada itu hatinya terasa luluh
oleh keharuan yang tak terhingga. Ia pun ingin
dibacakan petikan Injil Yohanes: “Sebelum hari raya
Paskah mulai” (Yoh 13:1). Pada petikan itu, khususnya
pada kisah penyaliban, ia tercekam secara luar biasa dan
mulai berbicara dengan Kristus yang menderita. Ia pun
bersyukur kepada-Nya dan memuliakan kebaikan hati
serta kerahiman-Nya yang dicurahkan kepada dia, orang
yang berdosa itu. Juga dalam madah-madah akan
kehormatan Santa Perawan, ia amat terhibur, dan dengan
merenungkan madah-madah itu hatinya dicurahi
kegembiraan dan sukacita. Ia pernah berkata kepada
bapa pengakuannya: “Pater, bantulah saya mewartakan
pujian Allah”, dan segera menyambung: “Ya Allahku,
Engkau Penciptaku, Rajaku, Bapaku, Kenikmatanku dan
segala hartaku”. Dan setelah berkata demikian, ia pun
dipenuhi nyala cinta kasih Ilahi, sehingga jiwanya
berpaling ke dalam dan dirasuki kesukaan rohani,
sementara indranya tak bergerak dan tubuhnya
ditinggalkan laksana batu pualam.
Lima hari sebelum ajalnya tiba, ia berkata kepada
saudara Yohanes Gomes, yang mengurus perawatan
orang sakita: “Kau lihatkah kerahiman besar Allah
kepadaku? Tuhan mendukung aku dengan kekuatan
besar untuk mengalahkan dan memenangkan musuh!”
Tiga hari sebelum ajalnya ia memandang biarawan yang
melayaninya itu, dan seraya mencucurkan air mata, ia
mengesah: “Mana bisa, Yesus Tuhanku, Engkau sendiri

