Page 9 - Fransriana - Sentul Purba
P. 9
intermezzo atau hiburan dalam situasi yang sepi monoton ini.” Pu-
langlah mereka berdua ke “rumah biaranya” dan supaya pikiran
saudara muda itu terbebas dari fantasi yang tidak murni, Bruder
pun ceritera macam-macam mengenai tanaman ini tanaman itu dan
sesampai di saung itu, Bruder pun mempersiapkan minuman.
numlah mereka dengan penuh kedamaian. Kedamaian persauda-
raan.
Sebenarnya terdapat versi lain yang mirip-mirip. Mungkin saudara
lain lagi yang dikerjain oleh bruder P. ini. Yang ditawarkan bukan
“melihat orang telanjang” tapi “melihat buah dada wanita”. Tidak
usah kuceritakan dari permulaan. Hanya waktu saudara muda ini
sudah jenuh menunggu-nunggu. Ditanyakan lagi kepadanya:
“Sungguh mau lihat buah dada?”. Dengan tegas dijawabnya: “Ya
Bruder, mana?” Maka dengan serta merta dia berkata: “Ini!” sambil
menyibakkan baju kaosnya yang kumal itu ke atas dan memerli-
hatkan dadanya yang hitam kena terpaan matahari. Dadanya hanya
sedikit melengkung seperti lapangan bola di pedesaan perbukitan
Manggarai. Saudara muda itu hanya berseru “Cukimai! Bruder nih
tipu saya!” Yang berikutnya ya mirip-mirip tadi. “Mikir, mikir ….!!”
Kata si Bruder bintang kita ini.
Saudara kita ini memang istimewa. Masih banyak hal lagi yang bisa
diceritakan. Tapi sekarang cukup dahulu, supaya kita tidak bosan,
dan dia pun bisa hidup tenang, tidak digosipkan terus menerus.
Halo Bruder P. sorry ya…. Salam persaudaraan.
Pastoran St. Paulus, Depok, Jabar
29 Juni 2020
Alfons S. Suhardi, OFM

