Page 5 - Fransriana - Sentul Purba
P. 5

san  saudara  muda  fran-
                                                        siskan  Indonesia  “Sedikit
                                                        cukup, banyak habis” pun
                                                        terlaksana  dengan  sem-
                                                        purna. Nikmatnya pol.

                                                        Setelah  makan  dan  mi-
                                                        num,  bangkitlah  mereka
                                                        berempat      untuk      me-
                                                        ngerjakan ini itu yang bisa
                                                        mereka     kerjakan.    Pada
                                                        suatu saat bertanyalah sa-
                                                        lah seorang saudara muda
           kepada  bruder  P:  “Der,  air  untuk  kopi  tadi  diambil  dari  mana?”
           Dengan  raut  muka  tenang  tanpa  perubahan  sedikitpun,  dijawab-
           nya: “Dari kolam itu tuh!” Menunjukkannya pun tidak dengan tan-
           gan dan jarinya, tapi sekedar dengan dagunya yang ditumbuhi satu
           dua  lembar  rambut  yang  tidak  karuan  bentuknya.  Saudara  muda
           itu  pun  membelalak,  seolah-olah  matanya  nyaris  keluar.  “Dari  ko-
           lam itu Der!!!???” “Iya, kenapa? Tadi habis juga kan, malah sampai
           tiga  gelas.”  Diamat-amatinya  air  kolam  itu,  memang  tidak  keruh-
           keruh amat, ada ikan cukup banyak juga. Dirunutnya asal muasal
           airnya,  ternyata  dari  pembuangan  cuci  mencuci  masih  tercampur
           dengan  air  entah  dari  mana.  Tapi  ya  sudah,  semua  sudah  masuk
           perut. Kalau nanti sakit ya dirasakan saja. Semoga aja perut kuat,
           anggap saja sebagai vaksinasi yang menimbulkan daya tahan tubuh
           yang tahan  banting. Demikian  permenungan saudara muda ini te-
           gar. Hatinya terkejut lagi karena ternyata air itu berasal dari kamar
           mandi, pada hal orang kan pada kencing juga di dalamnya.
           Sekitar jam 11 mereka mulai masak untuk makan siang, diperhati-
           kan betul dari mana air diambil. Ternyata dari dispenser yang me-
           mang jernih airnya. Setelah makan selesai, masalah air yang dimi-
           num tadi pagi menjadi lebih dramatis lagi,  karena ternyata bruder
           itu  dengan  tenang  tanpa  ragu  kencing  saja  ke  dalam  kolam  itu.
           “Tuhan  Yesus!”  seru  saudara  muda  itu.  “Keterlaluan  juga  bruder
           ini!”  keluhnya.  Lebih  parah  lagi,  hal  itu  tidak  hanya  terjadi  satu
           kali. Berulang-ulang. Rentang waktu sepuluan hari lagi yang  akan
           dilewatkan  di  sini  pun  dirasakan  menjadi  panjang  sekali.  “Yesus,
           lindungi kami” gumamnya.
   1   2   3   4   5   6   7   8   9