Page 6 - Fransriana - Sentul Purba
P. 6
Singkat cerita, pada sore hari sesudah makan malam. Duduklah
mereka bercengkerama rekreasi. Pada suatu ketika, bertanyalah
bruder kita, yang mengaku diri sebagai ahli pertanian zaman mu-
takhir ini kepada ketiga saudara muda: “Kopi kita tadi enak sekali
ya?” Jawabanpun tidak segera muncul, malah pada saling pandang,
akhirnya ada yang memberanikan diri menjawab tanpa semangat
“Iya Der”. Bagaikan orang Farisi dan Ahli Taurat yang menjawab
pertanyaan Yesus. “Kalau bilang tidak, kok minum sampai tiga ge-
las. Kalau iya, khawatir digolongkan orang jorok, suka minum air
selokan. Tapi kan bruder minum lahap juga. Akhirnya berani jawab
“iya” kendati tanpa semangat. Kemudian bruder itu bertanya den-
gan nada penuh wibawa: “Apakah kalian percaya bahwa kopi tadi
itu dimasak dari air kolam tempat kencing itu?” Diam. “Memang
benar demikian” ka-
tanya mantap. Raut
muka ketiga saudara
muda pun semakin
redup. “Jadi kalian
hebat, sungguh per-
caya”. Masih tetap di-
am. Sepi. Akhirnya
bruder itu berkata
dengan tegas “Sauda-
ra-saudara kan sudah
belajar filasafat,
dati hanya selayang Misa pemberkatan saung relaks.
pandang” mulailah dia
memberi kuliah. “Karena itu coba pake otakmu baik-baik. Mikir ….
Mikir baik-baik!” sambil menunjuk-nunjukkan jarinya ke pelipisnya
dengan mata yang melotot, seperti mBah Maridjan memandangi me-
reka satu per satu. “Mikir!” diulanginya lagi. “Mikir, emangnya saya
ini sejorok itu, tega bikin kopi dengan air sekotor itu? Tampangku
memang kotor begini, tapi saya juga tahu ilmu kesehatan” dan sete-
rusnya, dan seterusnya. Bruder ini kalau disuruh omong di depan
orang-orang yang dipandangnya beberapa derajat di bawahnya, bisa
melebihi politikus sedang kampanye. “Kalian ini memang belum ba-
nyak pengalaman hidup, mana iya orang minum dari air kolam. Ta-
pi kalian kok percaya saja, sampai muka kalian gak jelas lagi. Ka-
lian harus banyak mengenali berbagai ekspresi omongan orang,
human approach, personal relationship sehingga nanti kalian bisa

