Page 8 - Fransriana - Sentul Purba
P. 8

saudara  muda  sambil  berdeburan.  “Ya  tentulah!”  jawab  si  Bruder
           agak  melotot.  “Di  sini  gak  ada  itu  telanjang  pesegi  atau  lonjong.
           Hanya  telanjang  bulat  lat  lat!”  katanya  meyakinkan.  Si  saudara
           muda  semakin  penasaran  dan  dadanya  berdebur  bak  drum  band
           Tarakanita parade di depan Presiden Jokowi. “Kita tunggu saja” ka-
           ta si Bruder.
           Sambil ngobrol ngalor ngidul, me-
           reka  berdua  duduk  di  atas  batu
           besar  itu.  Seperempat  jam  lewat,
           ….  Setengah  jam  lewat  ….  Kok
           belum  juga  ada  orang  datang
           mandi…..? “Tunggu sebentar lagi”
           kata  si  bruder  karena  melihat  si
           saudara  muda  sudah  kehilangan
           kesabaran.  Akhirnya  setelah  me-
           nunggu  nyaris  satu  jam,  Bruder
           pun  bertanya  serius:  “Sungguh
           kamu  mau  melihat  orang  telan-
           jang bulat? Mau betul?” Si sauda-
           ra  muda  ditantang  begitu  tidak-
           lah  bergeming,  dijawabnya  tegas:
           “Mau  Bruder,  sungguh  mau!”
           Maka  Bruder  pun  berdiri  di  de-
           pan saudara muda itu, tanpa ra-
           gu-ragu sedikitpun dipelorotkannya celananya termasuk celana da-
           lamnya sampai ke mata kaki, dan ditariknya bajunya ke atas sam-
           pai melewati dadanya, sambil berkata tegas  kepada saudara muda
           itu: “Nih yang namanya telanjang bulat!” Dengan melotot penuh ke-
           heranan  saudara  muda  itu  melihat  Bruder  itu  sungguh  telanjang
           bulat di depan matanya. Dia ini hanya bisa setengah berteriak: “Sia-
           lan, Bruder keterlaluan!” Dengan tenang tanpa beban apa pun dita-
           riknya kembali celananya ke atas, sambil berkata: “Kamu yang bo-
           doh, gampang ditipu oleh nafsu seksual. Mau lihat orang telanjang!
           Pikir….!”  Sambil  menunjukkan  jarinya  ke  pelipisnya  “pikir  baik-
           baik,  mana  ada  perempuan  kampung  pergi  ke  kali  itu,  kan  kam-
           pungnya juga jauh begitu. Gak ada samasekali.” Sesudah agak te-
           nang,  ditepukkannya telapak tangannya pada  bahu saudara muda
           itu dan dengan mesra dikatakannya: “Mari kita pulang. Tenang sa-
           ja, ini rahasia kita berdua. Gak ada yang tahu. Anggap aja sebagai
   3   4   5   6   7   8   9