Page 4 - Fransriana - Sentul Purba
P. 4
Rombongan Saudara-saudara muda ini datangnya sudah agak sore.
Mereka pun harus segera mempersiapkan segala sesuatunya untuk
malam itu. Saudara P. telah menyiapkan makan malam untuk me-
reka. “Saya yang masak” katanya meyakinkan, tapi tidak usah be-
nar juga. Mereka pun mandi dengan air yang sejuk itu, gosok gigi,
minum dari dispenser AQUA yang terpasang di situ. Hidangan yang
ada itu pun dilahapnya sampai tuntas. “Untuk sarapan besok pagi,
tidak usah dipikirkan”, kata bruder P itu pasti. “Kita Fransiskan,
Kolam dan Penampungn air
gak usah bersusah-susah pikirkan hari esok. Setiap hari ada reze-
kinya” katanya bak suara seorang Magister Novis. Singkatnya, pada
sore atau malam hari itu segala kebutuhan perut pun terpenuhi
dengan baik, dan ini membuat hati para saudara muda itu tenang.
Setelah ibadat sore dan malam terlaksana dan rekreasi tuntas den-
gan permainan kartu yang hangat, mereka pun pergi tidur, dan Puji
Tuhan, tidur dengan lelap. Bangun pun dibebaskan, demikian juga
sarapan sendiri-sendiri. Karena hanya ada mi instan. Yang penting
jam 08 akan mulai bekerja di kebun. Hari pertama semua berjalan
dengan lancar tanpa ada kendala apa pun. Masing-masing diberi
tugas. Jumlahnya juga hanya tiga orang. Mulai hari ke dua, terbu-
kalah satu per satu hal-hal aneh yang tadinya tidak diperhatikan.
Sentul zaman semi purba 04: Air Kolam Untuk Menyedu Kopi?
Setelah bekerja satu dua jam di kebon, bruder kita ini pergi ke
saung dan setelah beberapa saat, dipanggilnya saudara-saudara
muda itu untuk minum kopi dulu. Di piring pun sudah tersedia
tongan-potongan biskuit. Ketiga saudara muda yang penuh peluh
itu pun segera datang dan berkumpul duduk di saung dengan pe-
mandangan yang indah itu. Kopi pun beberapa kali diisi kembali,
karena begitu cepat kosong. Demikian biskuit cepat lenyap. Rumu-

