Page 3 - GEREJA KATOLIK BEBAS
P. 3
BAGIAN I: GAMBARAN UMUM
1. Pendahuluan
Sewaktu mesjid dan jemaat Ahmadiyah digerebeg oleh sekelompok umat
Islam yang lain, banyak di antara kita yang berkomentar penuh kritik
“orang kok tidak bisa hidup dalam semangat pluralitas, maunya semua
orang sama dengan dirinya” dan sebagainya.
Kita umat Katolik Indonesia memang sangat terbiasa hidup dalam suasana
serba satu dalam Gereja Katolik. Kalau orang menyebut Katolik ya hanya
ada satu-satunya, yakni Gereja Katolik yang dipimpin oleh Sri Paus di
Roma. Titik. Kita merasa aman.
Tetapi apakah di dunia “kekatolikan” hanya ada Gereja Katolik (Roma)?
Hendaknya kita semua – baik awam maupun rohaniwan – bersiap-siap un-
tuk menghadapi suasana kacau dan bingung, yang bisa membuahkan rasa
panas, bahkan benci dan memusuhi, dan ujung-ujungnya bisa saja ingin
supaya kelompok lain itu tidak ada. Dengan kata lain, kita juga harus ber-
siap-siap membuktikan bahwa kita pun bisa dan sanggup hidup dalam su-
asana pluralitas. Mengapa? Kita tidak bisa menghindar dari dan mencegah
penetrasi – yang sekarang ini sudah mulai – Gereja-gereja lain yang juga
menamakan diri “katolik”.
Di Depok, dekat Novisiat Fransiskan “Transitus”, dekat Kuburan Kristen
dengan lapangan bolanya yang menurut papan di situ milik van Castelen,
sudah berdiri sebuah gedung gereja dengan nama “Gereja Katolik Bebas”.
Namanya juga sangat berbau Katolik (Roma): “St. Wilibrordus”. Umat Ka-
tolik, ya kita-kita ini, sudah ada yang merasa kebakaran jenggot. “Kok me-
reka pakai nama Katolik segala?!” “Mengapa kita tidak dikonsultasi”;
“Apakah kita tidak berhak melarang mereka?” itulah beberapa ungkapan
yang muncul dalam pertemuan para Imam Keuskupan Bogor di Griya Ka-
sih, Cisarua, Puncak tanggal 22-23 Januari 2008.
Tulisan ini ingin memberi gambaran “dunia kekatolikan” yang de fakto
ada, sehingga kita mampu mendudukkan perkaranya pada tempatnya se-
cara proposional.
Perlu diketahui juga, bahwa sekarang ini sudah terdapat Gereja Ortodoks
di Indonesia. Untuk Departemen Agama akan muncul kerepotan yang ti-
dak kecil juga, karena Bimas Katolik jelas-jelas tidak mau menampung me-
3

