Page 7 - GEREJA KATOLIK BEBAS
P. 7
Asal usulnya
Gereja Katolik Bebas (the Liberal Catholic Church) muncul sebagai hasil
reorganisasi menyeluruh pada tahun 1915-1916 atas gerakan Katolik Lama
(the Old Catholic movement) di Inggeris Raya berdasarkan asas yang lebih
liberal. Gereja Katolik Lama ini berasal dari tertib suksesi gerejani Gereja
induk Katolik Lama, yang adalah takhta Uskup Agung Utrecht Negeri Be-
landa. Gereja Katolik Bebas dengan saksama memelihara urutan tertib suk-
sesi ini.
Ada apa di Utrecht?
Karena gereja ini berasal dari Utrecht, Negeri Belanda, maka kita akan me-
luncur ke sana.
Kita meluncur ke awal masuk dan terbentuknya Gereja Katolik di negeri
Belanda. St. Wilibrordus adalah Rasul Agung yang membawa kekatolikan
ke Belanda dan mempertobatkan seluruh Belanda. Oleh Paus Sergius I, pa-
da tahun 696 ia diangkat menjadi Uskup Utrecht. Selain itu didirikannya
juga keuskupan Deventer dan Haarlem (juga di Belanda). Dari takhta
keuskupan Utrecht ini telah terpilih seorang Paus, yakni Paus Hadrianus VI
pada tahun 1552. Dua orang tokoh spiritual besar muncul pula dari
keuskupan ini: Geert Groote yang mendirikan Tarekat Persaudaraan Hidup
Bersama (Brethren of Common Life) dan Thomas a Kempis yang menulis
buku terkenal di seantero dunia “Mengikuti Jejak Kristus”.
Atas permohonan Kaisar Roma Konradus II dan Uskup Utrecht Heribertus,
Sri Paus Eugenius III pada tahun 1145 menganugerahi Takhta Uskup
Utrecht wewenang untuk memilih para Uskupnya sendiri. Privilege ini di-
teguhkan oleh Konsili Lateran IV pada 1215. Kemandirian Keuskupan
Utrecht ini masih diperkuat lagi oleh Paus Leo X yang memberikan kepada
Uskup Utrecht ke 57, Philip dari Burgundy, suatu keistimewaan: baik dia
maupun para penggantinya, baik klerus maupun awamnya, tak seorang
pun yang akan diadili oleh pengadilan Roma. Hal ini berarti bahwa Keus-
kupan Utrecht memiliki kewenangan yang sangat istimewa karena mem-
punyai kewenangan tribunal sendiri, yang seolah-olah “tidak tergantung”
dari Roma. Keistimewaan ini kemudian memainkan peran yang sangat
penting, ketika Takhta Keuskupan Utrecht mempertahankan hak-haknya
itu berhadapan dengan Takhta Suci di Roma.
7

