Page 203 - Santa Klara dan Hal-Ihwal Warisan Rohaninya
P. 203

Bagian VI: Sejarah Singkat para Pengikut St. Klara

           Sebagai “oblate” atau “converse” ia masuk biara rubiah Sistersien di Toledo
           (Spanyol). Selama 33 tahun ia hidup dalam biara Sistersien itu.
           Tetapi pada tahun 1484, Beatrice dengan 12 puteri lain memulai suatu kon-
           gregasi baru di Galiana, yaitu “Congregatio Immaculatae Conceptionis”. Mula-
           mula mereka menganut Anggaran Dasar Benediktus dengan konstitusi-kon-
           stitusi sistersien. Pada tahun 1484/1491 prakarsa Beatrice disetujui Paus In-
           nocentius VIII atas permohonan permaisuri Isabela. Tetapi sekaligus pimpi-
           nan kongregasi baru itu dipercayakan kepada Kardinal Ximenes (OFM).
           Setelah Beatrice meninggal, maka Kardinal Ximenes pada tahun 1495 mem-
           beri mereka sebuah Anggaran Dasar baru, serentak menempatkan mereka di
           bawah pimpinan Observantes. Tindakan itu disetujui Paus Alexander VI. Se-
           lanjutnya kongregasi Klaris itu dapat mempertahankan diri sampai dengan
           hari ini (1968: 3000 anggota dan 134 biara di Spanyol, Portugal dan Amerika
           Latin).  Anggaran  dasar  karangan  Kardinal  Ximenes  memang  amat  ter-
           pengaruh oleh Anggaran Dasar Klara dan tradisi Fransiskan.

           Pada waktu yang sama di Perancis, Yohana dari Valois mendirikan Ordo “An-
           nuntiatio”. Yohana dari Valois adalah puteri raja Perancis Ludovikus XI dan
           lahir pada tahun 1464. Sejak awal ia tidak merasa tertarik oleh cara hidup di
           istana raja. Ulah-ulahnya sangat menjengkelkan ayahnya. Di bawah pimpi-
           nan seorang Fransiskan, yaitu  Gilbertus Nicolai alias Gabriel Maria, Yohana
           memang  menempuh  suatu  gaya  hidup  asketik.  Dan  bahkan  mendapat
           penglihatan Maria. Penglihatan itu mengispirasikan kepada Yohana gagasan
           untuk mendirikan suatu ordo baru, rangkap dua dengan wanita dan pria
           yang bersama-sama menempuh gaya hidup yang sama. Gagasan itu tidak
           diterima oleh pemimpin rohani Yohana.

           Sementara itu ayah Yohana memutuskan agar puterinya harus kawin de-
           ngan calon si ayah, yaitu Ludovikus dari Orleans (Ludovikus XII). Perkawi-
           nan  paksa  itu  berlangsung  pada  tahun  1486.  Ludovikus  sebenarnya  juga
           tidak mau kawin dengan Yohana. Maka setelah naik tahta pada tahun 1489,
           Ludovikus  menceraikan  Yohana.  Paus  menyatakan  perkawinan  dahulu
           tidak syah (karena ada paksaan). Lalu Yohana menetap di Bourges.

           Di  sana  Yohana  mengumpulkan  sejumlah  puteri  untuk  mewujudkan
           rencananya  dahulu:  ordo  rangkap  dua.  Dari  pihak  Saudara-saudara  Dina


                                                                                  201
   198   199   200   201   202   203   204   205   206   207   208