Page 199 - Santa Klara dan Hal-Ihwal Warisan Rohaninya
P. 199

Bagian VI: Sejarah Singkat para Pengikut St. Klara

           Ordo III Fransiskus. Dengan setia ia menepati Anggaran Dasar Ordo III. Ang-
           garan  Dasar  itu  dibuat  oleh  Paus  Nicolaus  IV  (1289),  yang  menempatkan
           semua  Poenitentes  (yang  belum  bergabung  dengan  Dominikan  atau  Kar-
           melit) di bawah pimpinan Saudara-saudara Dina. Anggaran dasar itu cukup
           ketat dan keras, dengan aturan khusus perihal sembahyang, puasa, pakaian,
           ulah-tapa, sidang anggota, menerima sakramen Tubuh Kristus dan sakramen
           Tobat. Ada larangan membawa senjata, angkat sumpah dan ikut serta dalam
           pesta rakyat dan sebagainya.
           Setelah masuk Ordo III hidup rohani Katharina berkembang dan mendapat
           ciri mistik. Ia mendapat sejumlah penglihatan dan pengalaman mistik lain.
           Pengalaman mistiknya dituliskan Katharina sendiri dengan gaya prosa dan
           gaya sajak yang berbobot dari segi seni sastra. Ia pun menulis sebuah risalah
           mengenai  askese  dan  mistik  yang  berjudul:  Tujuh  senjata  rohani.  Setelah
           Katharina meninggal risalah itu diterbitkan dan amat laris di Italia. Buku itu
           semacam  “pedoman”  untuk  hidup  rohani.  Katharina  beberapa  lamanya
           menjabat sebagai Magistra para Novis.

           Sebab waktu berumur 17 tahun, Katharina bergabung dengan sekomunitas
           wanita di Ferara, yang menganut Anggaran Dasar Ordo III. Jadi semacam
           “biarawati  aktip”.  Seorang  ibu  bangsawati  di  Ferara  mendirikan  sebuah
           biara dan ingin bahwa menjadi biara Klaris dari arus pembaharuan. Sejumlah
           anggota dari komunitas Ordo III tersebut, termasuk Katharina, masuk biara
           itu dan seregu rubiah didatangkan dari Mantua untuk melatih mereka dalam
           gaya  hidup  Klaris  sejati.  Dalam  kelompok  itulah  Katharina  beberapa
           lamanya menjadi pemimpin Novis dan waktu itu menulis “Tujuh senjata ro-
           hani” tersebut.

           Setelah selama 24 tahun Katharina hidup dalam biara di Ferara itu, kota Bo-
           logna meminta supaya sebuah biara, serupa dibuka di kota itu. Katharina
           dengan 15 rubiah dari biaranya pindah ke Bologna. Di sana Katharina men-
           jadi Abdis dan meninggal di situ juga. Mayatnya tidak membusuk dan sam-
           pai dengan hari ini di Bologna dapat dilihat dan dihormati. Tersimpan di
           sana juga buku Brevir yang oleh Katharina sendiri dihiasi dengan gambar
           berwarna (miniatur) yang memperlihatkan bakat seni lukisnya.

           Eustokhia dari Mesina (1432-1468) juga seorang bangsawati dan mistika. Ia ter-
           masuk keluarga bangsawan terkenal di Sesilia, yaitu keluarga Colona (yang

                                                                                  197
   194   195   196   197   198   199   200   201   202   203   204