Page 71 - Karya-Karya Fransiskus Assisi - Bagian A. Peraturan Hidup
P. 71
Pth
Pasal XII
Mengetahui adanya Roh Tuhan
(1) Beginilah diketahui apakah seorang hamba Allah memiliki bagian
(2)
Roh Tuhan: apabila Tuhan menreriakan sesuatu yang baik dengan
perantaraannya, dagingnya tidak memegahkan diri karenanya, sebab
111
daging itu memang selalu bertentangan dengan semua yang baik;
(3) sebaliknya hamba Allah itu malah memandang dirinya lebih hina
dan menilai dirinya lebih rendah daripada semua orang lainnya.
112
113
Pasal XIII
Kesabaran
(1) Berbahagialah orang yang membawa damai karena mereka akan
disebut anak-anak Allah.
Mat 5:9
(2) Selama segalanya berjalan, seorang hamba Allah tidak dapat
mengetahui, sejauhmana ia memiliki kesabaran dan kerendahan hati.
(3) Akan tetapi bila datang saatnya, ketika orang-orang yang
seharusnya memperlakukan dia dengan baik justru berlaku
sebaliknya terhadap dia, maka [waktu itulah dapat diketahui berapa
besar kesabaran dan kerendahan hatinya;] sej auh yang nyata ada
padanya pada waktu itu, sebesar itu pulalah yang dimilikinya dan
tidak lebih.
Pasal XIV
Kemiskinan roh
(1) Berbahagialah orang yang miskin dalam roh, karena merekalah
114
yang empunya kerajaan surga.
Mat 5:3
(2) Ada banyak orang yang rajin sekali berdoa dan beribadat, dan
sekaligus banyak berpantang dan bermatiraga. Akan tetapi mereka
(3)
sudah merasa kesal hati dan segera gelisah, entah karena sepatah
115
kata saja yang mereka rasakan sebagai kelaliman terhadap dirinya,
111 Istilah "daging" (= caro) di sini berarti manusia sendiri, sejauh mana menjadikan dirinya
"pusat" segala-galanya, dengan akibatnya ialah kesombongan.
112 "lebih rendah" (= minor) adalah cita-cita injili Fransiskus, yang juga tercermin dalam sebutan
"Frater Minor" bagi semua saudara; lht AngTBul VI: 3.
113 Pth XIII sampai XXVIII (dengan kekecualian Pth XXVII) mulai dengan seruan
"Berbahagialah". Tema "Sabda Bahagia" di sini dikenakan pada para "hamba" Allah, yang
dalam tulisan Fransiskus berarti orang yang menjalankan hidup injili. Ungkapan itu sendiri
sudah lazim dipakai misalnya dalam Peraturan Hidup Santo Benediktus.
114 “miskin dalam roh": Teks Pth memberikan gambaran orang yang menilai diri sendiri tidak
berarti, sehingga tidak tersinggung rasa kehormatannya oleh perkataan atau perbuatan orang
lain.
115 "terhadap dirinya", harfiah "terhadap badannya", lht Pth VII:4 di atas.
71

