Page 105 - Santa Klara dan Hal-Ihwal Warisan Rohaninya
P. 105
Bagian II: Riwayat Hidup Santa Klara dari Asisi
Kristus, dikristalisasikan oleh kedua tokoh itu. Dari gejolak itu mereka ber-
dua menyelamatkan apa yang benar-benar otentik dan bernilai. Yaitu suatu
visi atas dunia dan kehidupan, bersumberkan Injil, yang langsung berla-
wanan dengan apa yang menjiwai masyarakat sipil dan gerejani: gengsi,
kekuasaan, uang.
Apakah orang mesti menyebut Klara sebagai “La Poverella” dalam arti:
kasihan dengan dia yang empat puluh tahun berjuang untuk secara legal
dalam rangka Gereja Katolik menobatkan tuan puteri kemiskinan, yang
segera ditinggalkan, malah oleh mereka yang bersumpah setia kepadanya?
Orang memang berkesan demikian, kalau melihat hal-ihwal cita-cita Klara
(dan Fransiskus) dalam sejarah selanjutnya. Orang boleh sertanya: Apakah
Klara (dan Fransiskus) tidak menawar sesuatu yang tidak real, yang
melampaui kemungkinan manusia dalam dunia seadanya? Klara memang
insaf – seperti diungkapkannya dalam wasiatnya – bahwa apa yang ia tawar-
kan “jalan sempit dan pintu sesak”. Ia tahu bahwa “hanya sedikit saja orang
yang bisa melewati jalan itu dan masuk. Kalau pun ada orang yang untuk
sementara waktu menempuh jalan itu, namun hanya sedikit saja orang yang
bertahan”. Namun demikian Klara tetap yakin bahwa mesti menawarkan
penemuannya, panggilannya sebagai “anugerah yang paling besar”.
Dengan utuh, panjang lebar dan terperinci Klara menuangkan panggilannya
dan cita-citanya itu ke dalam dokumen yang disebut sebagai “wasiatnya”.
Untuk mengenal kepribadian matang Klara, dokumen itulah yang pantas di-
pelajari. Maka jelaslah bahwa Klara dengan keyakinan yang mendalam
meninggalkan warisannya tidak hanya bagi saudari-saudarinya, tetapi me-
lalui mereka diwariskan kepada seluruh umat Allah. Umat Allah itu selalu
bergumul dengan Injil Yesus Kristus. Injil itu terus mengganggu umat Allah,
seolah-olah suara kalbunya, biar terus dilanggar, ditindas, disingkirkan. Se-
tiap kali Injil itu seolah-olah bangkit kembali dan selalu mengganggu.
Demikian pula halnya dengan mutiara yang digali Klara (dan Fransiskus)
dari Injil itu dalam abad ketiga belas. Penghayatan Injil sebagaimana yang
dicita-citakan Klara dan Fransiskus, terus menggugah hati orang-orang yang
dipanggil Tuhan melalui jalan sempit itu; dan melalui mereka itu Allah
menggugah hati umatNya. Beberapa kali sepanjang sejarah cita-cita Klara su-
dah terkubur, tetapi setiap kali dibangkitkan kembali, justru oleh karena dari
dalam kubur masih bersuara dan mengganggu. Biar dilanggar, biar ditindas,
103

