Page 190 - Santa Klara dan Hal-Ihwal Warisan Rohaninya
P. 190

Bagian VI: Sejarah Singkat para Pengikut St. Klara

           Kini Koleta menjadi “reclusa”. Adapun “reclusa” ialah wanita yang mengha-
           yati suatu gaya hidup khusus, yang secara resmi diterima, lengkap dengan
           Anggaran  Dasar  dan  kaul-kaul  tersendiri.  Para  “reclusa”  itu  seorang  diri
           menetap di suatu pertapaan kecil (2-3 bilik), yang biasanya dibangun pada
           tembok Gereja (besar) atau bahkan di dalam Gereja. Dengan suatu kaul khu-
           sus, yang diterima oleh Uskup setempat, mereka tinggal terkurung dalam
           pertapaannya. Pintunya ditutup rapat-rapat dan kunci hanya ada pada orang
           lain.  Ada  dua  jendela,  satu  yang  melaluinya  “reclusa”  dapat  mengikuti
           upacara dalam Gereja dan satu untuk berkomunikasi dengan masyarakat.
           Dengan kerja tangan (menjahit, menyulam, menyalin buku dsb) dan dengan
           derma  umat  “reclusa”  menjamin  kehidupannya.  Kerap  kali  “reclusa”  itu
           cukup besar pengaruhnya oleh karena berlaku sebagai “ibu rohani” bagi ban-
           yak umat. Bagi Koleta di Corbie pada Gereja “Notre Dame” atas biaya para
           Benediktin (pada tiang penyangga Gereja itu) dibuat pertapaan kecil. Koleta
           dengan kaul dikurung di situ. Di sana pun Koleta mulai mendapat pengala-
           man mistik bermacam-macam.
           Pada  tahun  1406  Koleta  mendapat  suatu  penglihatan  Fransiskus.  Beliau
           mengeluh karena kemerosotan parah yang terjadi dalam kedua Ordo yang
           ia dirikan. Penglihatan itu mengubah arah hidup Koleta. Ia merasa diri di-
           panggil  untuk  mengusahakan  pembaharuan  dan  pemulihan  kedua  Ordo
           Fransiskus, Ordo Saudara-saudara Dina dan Ordo St. Klara. Ia mohon dis-
           pensasi  dari  kaulnya  sebagai  “reclusa”  dan  izin  untuk  mendirikan  suatu
           biara Klaris yang sepenuh-penuhnya menghayati Anggaran Dasar karangan
           Klara,  termasuk  kemiskinan  mutlak.  Permohonan  itu  diajukan  dan
           dikabulkan oleh Paus Benediktus XIII di Avignon pada tahun 1406. Paus Ben-
           ediktus XIII itu sebenarnya Paus gadungan (meskipun di saat itu memang
           sukar diketahui umat, mengingat skisma yang sedang memecah Gereja La-
           tin). Paus (syah) yang berkedudukan di Roma pada saat itu ialah Bonifacius
           XI. Tetapi Benediktus XIII didukung oleh Perancis dan lain-lain negara, mes-
           kipun mula-mula ditentang dan malah dikepung tentara. Oleh karena beliau
           tidak  mau  mengalah  dan  menganggap  dirinya  Paus  yang  syah,  beliau
           kemudian  mendapat  dukungan  antara  lain  dari  pihak  Perancis.  Bisa  di-
           mengerti bahwa Koleta di Perancis menganggap Benediktus sebagai Paus
           yang syah dan menghubungi dia di Avignon.

           Pada waktu itu Koleta dikunjungi oleh seorang Saudara Dina bernama Hen-
           188
   185   186   187   188   189   190   191   192   193   194   195