Page 186 - Santa Klara dan Hal-Ihwal Warisan Rohaninya
P. 186
Bagian VI: Sejarah Singkat para Pengikut St. Klara
“anugerah” rohani mencari pendukung dan pembela.
Selebihnya di masa itu secara kultural muncul apa yang disebut sebagai
“Renaissance”, suatu aliran kuat yang mencoba menghidupkan kembali
kebudayaan Roma dan Yunani dahulu. Pada dasarnya aliran itu kafir belaka,
namun amat didukung oleh sejumlah Paus dan pejabat Gereja yang tinggi.
Itulah menyebabkan kemerosotan di bidang agama dan moral.
Akhirnya dari pihak Saudara-saudara Dina mau pun Klaris tidak mendapat
banyak dorongan ke arah yang betul. Ordo I sendiri kacau dan terpecah-be-
lah. Pertikaian berkisar sekitar kemiskinan yang penghayatannya merosot
dan memancing reaksi protes dan kecaman dari pihak saudara-saudara yang
ingin cita-cita Fransiskus dipertahankan. Masalah pokok ialah: Apakah gaya
hidup semula mesti dipertahankan atau – demi kepentingan Gereja, yaitu
kerasulan/pastoral – gaya hidup mesti disesuaikan dengan keadaan dan
keperluan nyata, meskipun itu berarti memperlunak kesederhanaan dan
kemiskinan gaya hidup semula. Batas konkrit masalah dasar itu meruncing
sekitar penghayatan kemiskinan. Ada dua “partai” atau arus, yaitu “spir-
itual” dan “communitas”. Para jago spiritual ialah Yohanes Olivi (seorang te-
olog), Elbertino de Casale dan Angelo Clareno, dua mistisi (1278-1378) dan
arus itu didukung seorang mistika Ordo III, Angela de Foligno, dan seorang
mistika Augustin yang bernama Chiara de Montefalco. “Communitas” meru-
pakan arus paling besar, tetapi tidak mempunyai tokoh yang menonjol.
Pertikaian interen itu pun menyebabkan Ordo I berbentrokan dengan Paus
Yohanes XXII. Ia mengambil- tindakan keras terhadap spiritual, antara lain
beliau menyuruh membakar sejumlah spiritual yang tidak mau taat. Seba-
gian dari Ordo I, di kapitel umum, termasuk Minister Umum, Michael dari
Cesena, memberontak dan bergabung dengan kaisar Jerman (Ludovikus dari
Bavaria) melawan Paus yang semakin tegas dan keras. Kekacauan dalam
Ordo I tentu saja tidak menolong, sebaliknya, menghalangi para Klaris untuk
mempertahankan atau menemukan kembali jalan yang benar.
Kekacauan dan kebingungan mencapai puncaknya pada akhir abad XIV da-
lam apa yang tadi sudah disebut, yaitu skisma. Gereja Katolik terpecah men-
jadi dua. Perpecahan dalam Gereja menyangkut juga kaum religius dan Ordo
Saudara Dina. Sebagian mendukung Paus di Avignon, sebagian mendukung
Paus di Roma. Kadang-kadang dalam propinsi ada dua propinsial, dua
184

