Page 196 - Santa Klara dan Hal-Ihwal Warisan Rohaninya
P. 196
Bagian VI: Sejarah Singkat para Pengikut St. Klara
atas Anggaran Dasar, yang membuka mata para Klaris bagi segala implikasi
dan konsekuensi praktis dari Anggaran Dasar itu. Komentar itu semacam
“konstitusi-konstitusi”. Konstitusi-konstitusi itu memuat sejumlah besar
aturan terperinci mengenai umur calon yang dapat diterima, mengenai pa-
kaian, puasa, berdiam diri, ulah-tapa, jenis kerja yang dapat ditangani dan
pemilihan para pejabat biara serta perawatan rubiah yang sakit. Dalam
komentar itu, Yohanes menyebut semua aturan itu sebagai “perintah”. Para
Klaris mengerti salah, seolah-olah sungguh “perintah” yang pelanggarannya
menjadi “dosa”, malah “dosa berat”. Maka seorang pembantu Yohanes dari
Capistrano, yaitu Nicolaus dari Capistrano, menulis sebuah keterangan,
yang menjelaskan bahwa bobot semua “perintah” itu tidaklah sama. Ke-
banyakan aturan yang diberikan Yohanes dari Capistrano hanya berupa
“ajakan” dan “nasehat” saja. Rupanya keterangan itu belum berhasil men-
jernihkan situasi. Pada tahun 1446 Paus Eugenius IV (1431-1447) turun tangan
dengan menulis sepucuk surat kepada pimpinan (Vicarius, gelarnya) para
Observantes (Yakobus dari Brindizzi). Ia menyuruh para Observantes mem-
perhatikan para Klaris. Mereka mesti menjelaskan bahwa “perintah-
perintah” yang sesungguhnya (yang pelanggarannya menjadi dosa) hanya
ketiga kaul dan pingitan. Paus menasehati para Klaris memakai sepatu dan
tidak mempertahankan “berdiam diri abadi”. Tentu saja pembaharuan yang
sehat perlu juga, namun orang pun mesti tahu batas. Rupanya Paus ber-
pendapat bahwa sementara Klaris terlalu bersemangat. Seluruh gejolak itu
menyangkut terutama biara Corpus Christi di Mantua.
Suatu pusat pembaharuan Klaris di Italia yang lain ialah biara S. Lucia di
Foligno. Mula-mula biara itu biara Augustines, tetapi pada tahun 1422 ber-
alih menjadi Klaris: Biara S. Lucia itu meminjamkan regu-regu rubiah berse-
mangat kepada biara-biara lain untuk melancarkan pembaharuan Klaris di
sana juga, kalau biara-biara itu memang menginginkannya. Pada tahun 1448
Abdis S. Lucia sendiri (Margareta dari Salmona) dengan 22 rubiah pergi ke
biara Monteluce di Perugia. Baru saja biara itu didirikan dan komunitas
terdiri atas 20 rubiah. Mereka dilayani oleh dua Camilliani. Rupanya pemba-
haruan itu sedikit banyak dipaksakan kepada rubiah-rubiah itu. Sebab ke-
banyakan dari 20 rubiah itu tidak mau menerima Margareta serta teman-te-
mannya yang datang dari Foligno. Akhirnya mereka meninggalkan biaranya
dan pindah ke tempat lain. Insiden kecil itu memperlihatkan bahwa
194

