Page 40 - Santa Klara dan Hal-Ihwal Warisan Rohaninya
P. 40
Bagian II: Riwayat Hidup Santa Klara dari Asisi
saleh, yang rajin beragama dan bersedekah. Catatan yang sedikit menarik
perhatian – sebab kurang biasa – ialah sebagai berikut: diberi kesaksian
bahwa Klara waktu kecil tidak ingin dilihat dan dikagumi orang di luar ru-
mah. Itu tentu saja kurang biasa pada anak-anak kecil yang justru suka dipuji
dan dikagumi – kalau tidak malu-malu, apalagi di Italia tempat orang tua
gemar memamerkan anak-anaknya, khususnya puteri-puteri. Ciri yang ku-
rang lazim pada Klara itu boleh diartikan sebagai tanda bahwa secara wajar
condong mengundurkan diri dari dunia luar, berbeda dengan kebanyakan
puteri biasa.
Waktu Klara berumur sekitar 12 tahun, familinya mulai merencanakan per-
nikahan, seperti biasa di zaman itu, khususnya di kalangan bangsawan. Per-
nikahan memang bukan urusan mereka yang bersangkutan, melainkan uru-
san famili. Dan orang yang dalam hal itu memegang peranan yang memu-
tuskan ialah kepala famili seluruhnya, dalam hal Klara: pamannya Monaldo,
(barangkali bukan nama diri, tetapi gelar; Munaldo = wali). Apa yang paling
panting dalam urusan perkawinan ialah harta-milik famili. Harta milik itu
tetap mesti tinggal di dalam famili yang bersangkutan, sehingga tidak beralih
ke dalam tangan famili (bangsawan) lain. Karena itu calon suami bagi puteri
dicari dalam lingkup famili yang sama. Hal itu semakin mendesak bagi
keluarga di Favarone, sebab tidak ada putera sebagai ahli waris. Biasanya
harta milik beralih kepada putera (sulung). Puteri-puteri hanya diberi “mas
kawin” waktu dikawinkan. Tetapi ahli waris keluarga di Favarone hanya
puteri. Maka perkawinan mesti direncanakan dengan seksama, agar harta
milik keluarga tinggal di dalam famili. Calon suami harus dicari di antara
kemenakan. Dan calon yang direncanakan bagi Klara ialah Ranieri di Ber-
nardo.
Sejak Klara mulai didekati dengan rencana perkawinan itu, ia blak-blakan
menolak. Famili boleh mendesak, malah calon yang ditentukan secara pri-
badi boleh mendesak, tetapi Klara menolak semua usul dan tidak mengalah.
Begitulah kesaksian beberapa orang yang terlibat dalam urusan perkawinan
itu, waktu mereka didengar dalam proses peresmian Klara sebagai orang ku-
dus. Mengapa persis Klara menolak semua tawaran itu kurang diketahui. Ia
sudah berumur 16-17 tahun, sehingga sudah tiba saatnya untuk menentukan
arah hidupnya. Tidak ada tanda bahwa Klara mempunyai rencana “masuk
biara”, artinya dimasa itu: menjadi rubiah. Tidak ada satu pun kesaksian,
38

