Page 42 - Santa Klara dan Hal-Ihwal Warisan Rohaninya
P. 42
Bagian II: Riwayat Hidup Santa Klara dari Asisi
struktur feodal dan hirarkisnya adalah masyarakat kolektip, terbagi atas tiga
golongan yang terpisah dan tersendiri. Ada kaum bangsawan yang berdasar-
kan milik berupa tanah mempunyai segala kuasa dan tersusun secara
hirarkis. Kaisar/raja pada puncaknya, disusul dan didukung berbagai ting-
kat tuan feudal yang menguasai sebagian tanah yang luas, agak swasembada
dan melalui sumpah setia – yang kerap dan mudah dilanggar – terikat pada
kaisar/raja. Kaisar/raja terpaksa mengakui kedudukan para tuan tanah dan
kerap kali sama sekali tergantung pada mereka. Di samping golongan bang-
sawan ada golongan “rohaniwan/biarawan”, satu-satunya yang “makan hu-
ruf” sedikit. Milik berupa tanah menjadi jaminan penghidupan.
Rohaniwan, artinya pejabat Gereja, golongan atas biasanya dari kalangan
bangsawan. Uskup-uskup dan abas/abdis biara-biara besar mempunyai pe-
ranan politik juga dan kerap kali menjadi “raja/ratu” (sipil) di wilayah
kekuasaannya. Akhirnya ada masa rakyat yang tidak berarti apa-apa, keba-
nyakan menjadi setengah budak tuan-tuan tanah/rohaniwan dan tidak
mempunyai kesadaran politik.
Seluruh masyarakat berfikir secara kolektip dan seorang perorangan tidak
berarti banyak. Semua memang beragama (Kristen) bercampur banyak
tahyul. Tuhan (Allah/Kristus) dipikirkan sebagai “Maharaja” dan manusia
(secara kolektip) secara mutlak mesti mengabdi kepada-Nya. Agama di-
salurkan melalui upacara-upacara liturgi Gereja, secara masal-kolektip tanpa
banyak keterlibatan pribadi. Agama dan rohaniwan/biarawan sering men-
jadi permainan politik saja di tangan kaum bangsawan kalangan atas yang
secara mutlak menguasai segala sesuatu, meski pun Paus Gregorius VII
Agung (1013-1085) dan pengganti-penggantinya sudah mencoba memper-
baiki keadaan itu.
Tetapi pada akhir abad ke duabelas mulai bergejolaklah suatu perubahan
yang berlangsung sampai pertengahan abad ke tigabelas, jadi di masa Fran-
siskus dan Klara hidup. Akibat “Perang Salib” Eropa keluar dari kurungan
dan berkenalan dengan kebudayaan baru, yakni kebudayaan Bizantium
(Roma Timur) dan Arab. Kebudayaan itu jauh lebih maju, halus dan berbelit-
belit dari pada yang dikenal Eropa. Banyak hal dari kebudayaan “asing” itu
diambil alih, antara lain filsafat Yunani, Plato, Aristoteles. Para cendekiawan
(umumnya rohaniwan/biarawan) rajin mempelajari “ilmu” dari Timur dan
40

