Page 43 - Santa Klara dan Hal-Ihwal Warisan Rohaninya
P. 43
Bagian II: Riwayat Hidup Santa Klara dari Asisi
kebudayaan Yunani-Romawi dari zaman dahulu. Sementara itu orang mulai
berfikir dan berlaku secara individual perorangan. Harga diri manusia
meningkat, pandangan terhadap “alam dunia” dan “masyarakat” berubah.
Dan itu pun mempengaruhi hidup keagamaan gerejani. Penghayatan iman
berubah. Orang tidak puas lagi dengan upacara-upacara gerejani yang
diselenggarakan para “ahli”, yaitu rohaniwan. Sebaliknya orang secara
pribadi mau menghayati iman dan agama. Perhatian beralih dari “Tuhan di
surga”, Maharaja berdaulat, kepada Yesus Kristus yang pernah hidup di
dunia sebagai manusia, di negeri Palestina yang melalui Perang Salib mulai
dikenal dan suka dikunjungi. Dengan sendirinya orang pun mulai menaruh
minat terhadap kitab Injil yang ingin dikenal dan dibaca oleh kaum awam
juga.
Penyalur dan pengemban pikiran baru tersebut ialah suatu golongan baru
yang mulai berkembang dalam masyarakat. Golongan baru itu ialah “warga
kota” perdagangan. Dahulu tentu saja juga ada kota-kota (kecil), tetapi bi-
asanya dikuasai, bahkan dimiliki kaum bangsawan kelas atas. Tetapi pada
akhir abad ke duabelas dan awal abad ke tigabelas, warga kota dan khu-
susnya di Italia, mulai menangani perdagangan antar kota dan antar daerah,
malah perdagangan internasional dengan daerah-daerah timur. Sekaligus
warga kota – dengan perdagangannya itu – mulai mengembangkan macam-
macam industri yang memprodusir barang-barang untuk diperdagangkan.
Para ahli teknis (keterampilan) mengorganisasikan diri menjadi berbagai ke-
lompok yang menspesialisir dirinya di salah satu bidang dan mencoba mere-
but semacam monopoli (hak tunggal) atas produksi barang tertentu. Tata
ekonomi baru itu tidak lagi bertumpu pada milik berupa tanah, tetapi pada
uang, minyak pelumas perdagangan dan industri.
Kota-kota perdagangan dan industri – seperti di Italia, misalnya Venetia,
Viterbo, Perugia, Asisi dan lain-lain, - tidak lagi rela menerima kuasa dari
kalangan bangsawan dan tidak mau mengabdi kepada tuan-tuan tanah itu.
Kota-kota itu mencoba merebut, kalau perlu dengan kekerasan senjata, suatu
otonomi mutlak, lepas dari kaum bangsawan. Oleh karena bangsawan se-
makin membutuhkan uang untuk membeli barang-barang baru dan luks
yang diperdagangkan dan untuk operasi militernya, - sebab musti menyewa
pasukan - maka kota-kota yang mempunyai uang seringkali dapat memaksa
kaum bangsawan untuk memberi otonomi yang semakin besar. Kota-kota
41

