Page 44 - Santa Klara dan Hal-Ihwal Warisan Rohaninya
P. 44
Bagian II: Riwayat Hidup Santa Klara dari Asisi
dagang dan industri juga bersaing satu sama lain dan saling memerangi demi
keuntungan dagang dan industri. Masing-masing kota menjadi semacam
“negara kerdil”, yang otonom dengan pemerintahannya sendiri, paling-pal-
ing di bawah payung nominal raja, kaisar atau Sri Paus. Pemerintahan kota
tidak terikat pada keluarga tertentu berupa warisan, seperti halnya dalam
masyarakat feodal. Pemerintahan kota dipilih oleh warga-warga kota
sendiri, berarti para pedagang dan industrialis. Rakyat jelata di kota-kota
tidak banyak pengaruh. Begitu kesadaran politik di kalangan itu dipertajam.
Dan apa yang dalam masyarakat kota penting bukanlah warisan, melainkan
keuletan perorangan di bidang perdagangan dan industri yang berdasarkan
prinsip untung dan konkurensi.
Di bidang agama pun warga kota merebut semacam otonomi. Berarti mereka
tidak lagi begitu rela menerima, menuruti dan mentaati para “ahli agama”,
ialah para rohaniwan, seringkali sekaligus bangsawan dan tuan tanah, yang
menyelenggarakan upacara-upacara. Para warga kota condong mengeman-
sipasikan diri dari pimpinan rohaniwan, artinya hirarki Gereja. Mereka con-
dong menempuh jalan sendiri dalam hal menghayati iman dan agamanya.
Penghayatan itu menjadi lebih perorangan, pribadi dan bersifat emosional
serta konkrit. Pengahayatan iman terarah kepada hal-hal konkrit dan his-
toris, khususnya Yesus dari Nazaret, Injil dan Maria.
Perubahan yang sedang berlangsung dalam masyarakat memperlihatkan
diri dalam macam-macam bentrokan yang di masa itu – abad ke duabelas
dan ke tigabelas – melanda masyarakat Eropa. Ada konflik politik, konflik
sosial dan konflik religius.
Masih berlangsunglah suatu konflik lama antara dua kuasa politik yang
tertinggi di Eropa, yaitu Kaisar Jerman (menguasai seluruh Eropa kecuali
Perancis, Inggris, Polandia serta Skandinavia) di satu pihak dan Sri Paus di
lain pihak. Paus memang masih “kepala negara kepausan” kecuali kepala
Gereja Katolik. Negara Kepausan itu meliputi – paling tidak secara nominal
– sebagian besar Italia dan beberapa raja secara nominal menjadi “raja muda”
Sri Paus. Sebagai kepala negara, Paus langsung terlibat dalam catur politik.
Tidak jarang kedudukannya sebagai kepala Gereja Katolik dipakai untuk
mendukung kedudukannya sebagai kepala negara. Dan itulah sebabnya
mengapa Sri Paus mempunyai kuasa politik yang besar sekali, satu-satunya
42

