Page 45 - Santa Klara dan Hal-Ihwal Warisan Rohaninya
P. 45
Bagian II: Riwayat Hidup Santa Klara dari Asisi
kuasa yang lebih kurang dapat mempersatukan Eropa. Raja-raja lain, khu-
susnya raja Perancis dan Inggris pada dirinya kurang penting, namun me-
mainkan peranan besar dalam konflik antara Kaisar dan Paus yang masing-
masing mencari dukungan Inggris dan terutama Perancis. Italia secara lang-
sung dan intensip terlibat dalam bentrokan antara Paus dan Kaisar itu, meng-
ingat bahwa justru di Italia wilayah kekuasaan kedua tokoh itu bertemu. Di
Italia ada dua “partai” (kalau boleh disebut demikian). Yang satu yaitu Ghi-
bilin mendukung Kaisar dan melawan Paus. Dan yang lain disebut Welf, men-
dukung Paus dan melawan Kaisar. Meski pun bentrokan antara Paus dan
Kaisar langsung hanya melibatkan kaum bangsawan, namun kota-kota jadi
terlibat pula. Sebab masing-masing partai mencari dukungan (dan uang)
kota dan kota-kota memanfaatkan konflik itu untuk semakin merebut otono-
minya sendiri, lepas dari kaum feodal. Oleh karena kota-kota itu pada da-
sarnya hanya mencari keuntungan sendiri, maka mereka gampang berubah
haluan, sekali memihak Kaisar, sekali memihak Paus, berarti memilih pihak
yang paling menguntungkan bagi kota. Akibat bentrokan politik yang meli-
batkan Paus, ialah: Paus kadang kala tidak merasa aman di Roma dan me-
larikan diri ke tempat yang lebih aman.
Tetapi permainan politik itu mengakibatkan kota-kota pun secara politik mi-
liter berbentrokan. Dasarnya memang ekonomi belaka, sebab kota-kota itu di
bidang dagang dan industri bersaing satu sama lain dan mencoba saling me-
nyingkirkan dari pasar dunia. Keterlibatan politik hanya melayani ekonomi.
Akibat situasi politik tersebut ialah: Italia dan Eropa terus dilanda pepe-
rangan, antara Kaisar dan Paus serta dukungan masing-masing, antara kota-
kota dan antara warga kota dan kaum feodal. Dan tentu saja kejahatan pun
terus meningkat berupa perampokan dan penyamunan. Bekas tentara, bang-
sawan yang menjadi miskin, proletariat kota melarikan diri ke gunung dan
hutan dan merampok di mana saja ada kesempatan. Jalan-jalan Eropa di
masa itu memang jauh dari aman.
Dalam bentrokan politik-militer tersebut tersembunyilah bentrokan sosial.
Konflik itu berlangsung antara “klas baru” yang muncul, yakni kaum dagang
dan industrialis di kota-kota dan kelas feodal lama, kaum bangsawan dan
rohaniwan golongan atas. Warga-warga kota mencoba merebut kekuasaan
yang semakin besar dari tangan kaum feodal/rohaniwan yang tentu saja
43

