Page 48 - Santa Klara dan Hal-Ihwal Warisan Rohaninya
P. 48
Bagian II: Riwayat Hidup Santa Klara dari Asisi
ditangani dan dalam waktu singkat Asisi kembali menjadi kota yang cukup
penting di daerah Umbria. Jaringan perdagangan meliputi seluruh Eropa
dan sebagian daerah Timur Tengah (Bizantium dan Muslimin). Pedagang-
pedagang besar antara lain Pietro di Bernardone terus di perjalanan dengan
barang-barang dagangan. Ayah Fransiskus memang jarang di rumah waktu
Fransiskus masih kecil.
Di samping dan tercampur dengan gejolak sosio-politik tersebut, Eropa juga
dilanda gejolak keagamaan dan gerejani. Mulai dengan pertengahan abad ke
duabelas sampai pertengahan abad ke tigabelas (1150-1250) di mana-mana di
Eropa muncullah macam-macam gerakan dan kelompok pembaharuan
agama. Kelompok dan gerakan itu biasanya berpangkal warga kota, tetapi
juga menarik dan menghanyutkan cukup banyak orang dari kalangan bang-
sawan dan rohaniwan/biarawan tradisional. Ada pengikut-pengikut Wal-
des, seorang Perancis yang kaya. Secara mendadak ia bertobat dan dalam
kemiskinan mulai mewartakan Injil dan hidup injili. Ada juga di Perancis,
“orang-orang miskin” dari Lyon. Ada “Humiliati” di Italia, ada gerakan Pre-
monstrat, gerakan Apostolik, pengikut Stefanus Muret, pengikut Robert dari
Abrisel, ada Pasagini, Josephini, Arnaldistae dan lain-lain. Gerakan-gerakan itu
pun menghanyutkan kaum wanita yang bergabung dengan pria atau pun
bergerak tersendiri, seperti gerakan yang dilepaskan Catharina dari St. Tru-
iden, Iveta dari Hoei, Maria dari Oignes, Ida dari Nijvel, Beatrix dari Nazareth.
Yang paling tersebar luas ialah “Beghin” (wanita) dan “Bogard” (pria). Mereka
sebenarnya setengah awam setengah biarawan, mereka hidup berkelompok-
kelompok dan aktip di bidang amal kasih. Masih ada gerakan “saudara-
saudara” (fratres) dan “saudari-saudari” (sorores) dari Roh Kebebasan, yang me-
mang merasa diri “bebas”, berarti liar di segala bidang.
Pada umumnya gerakan dan kelompok-kelompok itu mempunyai ciri
awami, berarti: unsur utama ialah kaum awam. Mereka: langsung berorien-
tasi pada Injil dan Kitab Suci dengan melompati pimpinan resmi Gereja.
Mereka tertarik oleh Yesus dan jemaat perdana di Yerusalem, seperti digam-
barkan dalam Perjanjian Baru. Secara tersendiri mereka berkumpul antara
lain untuk membaca Kitab Suci (Injil), yang rajin diterjemahkan ke dalam pel-
bagai bahasa daerah. Mereka mewartakan Injil yang seorang kepada seorang
di luar rangka Gereja hirarki. Kemiskinan Injili dan rasuli menjadi cita-cita
mereka (karena itu mereka kerap kali menyebut diri sebagai “pauperes
46

