Page 49 - Santa Klara dan Hal-Ihwal Warisan Rohaninya
P. 49

Bagian II: Riwayat Hidup Santa Klara dari Asisi

           minores” (kaum miskin yang dina).
           Oleh karena gerakan dan kolompok-kelompok bermacam-macam itu kerap
           kali secara spontan muncul lepas dari pimpinan dan lembaga gerejani, maka
           tidak jarang timbul konflik dengan pimpinan Gereja. Mula-mula kelompok-
           kelompok itu tentu saja tidak mau menjadi “bidaat”, sebab tidak mempunyai
           minat  doktriner.  Tetapi  akibat  bentrokan  dengan  pimpinan  Gereja,  ke-
           lompok-kelompok  itu  mulai  menjadi  tersesat.  Sebenarnya  hanya  ada  dua
           gerakan yang sejak awal berupa bidaat, yakni Katar dan Albigens di Perancis.
           Ajaran Katar dan Albigens sangat berdekatan. Dua-duanya menganut suatu
           dualisme,  yang  menyatakan  kejasmanian  secara  dasariah  jahat.  Dualisme
           (gnosis) sudah tua sekali. Dengan nama Manikkheisme sudah dikenal Agusti-
           nus. Pada abad duabelas dan tigabelas, bidaat itu kambuh lagi. Penganut aja-
           ran itu cukup menarik orang banyak, sebab anggota-anggota penuh (sem-
           purna) mempraktekkan kemiskinan secara serius, sertapa dan bermatiraga
           dan hidup morilnya tak tercela, berbeda dengan banyak rohaniwan dan biar-
           awan masa itu. Tetapi praktek itu tidak berdasarkan Injil, malainkan dual-
           isme. Oleh karena seluruh kejasmanian jahat (karena diciptakan prinsip jahat
           yang setingkat dengan prinsip baik, ialah Allah), maka kejasmanian secara
           dasariah mesti ditolak. Dan pandangan itulah yang melandaskan pantang
           mereka,  matiraga,  kemiskinan  dan  ulah  tapa.  Dan  atas  dasar  yang  sama
           mereka menolak sakraman-sakraman, sebab yang ilahi (rahmat) tidak dapat
           diikat  kepada  kejasmanian  (barang  sakramantal).  Tetapi  ada  juga  yang
           menarik kesimpulan lain. Manusia yang sebenarnya dan sejati ialah “jiwa”.
           Dan jiwa itu tidak bisa terkena oleh kejasmanian, oleh kejahatan. Maka apa
           saja yang dilakukan “manusia sejati” itu tidak bisa kena dosa. Karena itu ada
           yang  tidak  mengambil  pusing  tentang  kejahatan  apa  saja  yang  mereka
           lakukan (antara lain bidang seksual).

           Gerakan “Injili” dan “rasuli”, “kemiskinan” tersebut yang pada dirinya tidak
           tersesat dari ajaran sehat, kadang kala ditulari pandangan para Katar dan Al-
           bigens tersebut, khususnya mana kala mereka berbentrokan dengan pimpi-
           nan Gereja. Innocentius III sebenarnya mencoba menampung gerakan dan
           kelompok semacam itu. Beliau malah menyetujui dan mensyahkan beberapa,
           seperti sebahagian dari pengikut Waldes, Humiliati, dan Orang Miskin dari
           Lyon.  Tetapi  oleh  pemimpin setempat  mereka kerap  kali  tidak  disenangi.
           Sebab dengan gaya hidupnya dan dengan kata-kata gerakan dan kelompok-
                                                                                   47
   44   45   46   47   48   49   50   51   52   53   54