Page 56 - Santa Klara dan Hal-Ihwal Warisan Rohaninya
P. 56
Bagian II: Riwayat Hidup Santa Klara dari Asisi
yang dipakai Fransiskus dan teman-temannya; kain kasar dari bulu domba
yang tidak diwarnai, jadi berwarna keabu-abuan.
Fransiskus tidak bermaksud Klara tinggal di Porziuncula bersama dengan
dirinya serta teman-temannya. Jelaslah Klara tidak menjadi anggota ke-
lompok Fransiskus. Memang di waktu itu ada kelompok-kelompok yang
mencakup baik pria maupun wanita sebagai anggota penuh. Pria dan wanita
tinggal di satu komplek, kalau pun biasanya terpisah. Tetapi jelas bahwa
Fransiskus dan Klara sejak awal memikirkan halnya secara lain. Klara dan
Pacifica tidak menjadi anggota ordo “saudara-saudara dina”.
Maka pada malam itu juga Fransiskus mengantar Klara serta temannya ke-
pada sebuah biara Benediktines, yakni biara S. Paolo di Bastia. Untuk semen-
tara waktu Klara dan temannya dititipkan di situ. Nanti halnya akan diurus
lebih lanjut. Mungkin sekali Fransiskus dan Klara mengambil tindakan itu
untuk sedikit melindungi Klara terhadap familinya. Sebab Gereja S. Paolo
mempunyai hak suaka, artinya kuasa sipil tidak dapat masuk dan mengam-
bil tindakan terhadap mereka yang berada di situ. Malah semua orang yang
tinggal dalam biara itu dan selama tinggal di situ tidak boleh ditindak oleh
instansi sipil, artinya: polisi atau tentara kota Asisi. Maka di S. Paolo di Bastia,
Klara terlindung oleh hukum dan kuasa Gereja, yang di masa itu masih
cukup disegani.
Tentu saja di rumah keluarga di Favarone keesokan harinya menjadi gempar.
Klara hilang entah kemana. Hanya mungkin ibu Klara, Hortulana, tahu sedi-
kit banyak mengenai apa yang dibuat Klara. Sebab dalam seluruh berita dan
cerita tentang peristiwa itu ibu Klara tidak pernah sampai disebut. Tetapi
kaum keluarganya, entah bagaimana segera mendapat tahu di mana Klara
bersembunyi. Maka pamannya Monaldus, wali Klara, dengan sejumlah
kesatria naik kuda dan langsung ke biara S. Paolo di Bastia. Mereka berhasil
masuk biara dan menuntut Klara dikembalikan. Akhirnya kesatria dapat ber-
temu dengan Klara. Mereka menuntut dan mengancam, tetapi Klara tidak
mengalah. Ia sudah pergi ke gereja biara dan memegang altar di situ. Waktu
didekati kesatria itu Klara membuka selubung sehingga nampak rambutnya
sudah dipotong, ia telah mendapat “tonsura” para rubiah. Itu pun berarti
Klara langsung di bawah perlindungan Gereja dan siapa saja menanganinya
terkena ekskomunikasi, pengucilan dari Gereja. Kecuali itu orang yang di
54

