Page 61 - Santa Klara dan Hal-Ihwal Warisan Rohaninya
P. 61
Bagian II: Riwayat Hidup Santa Klara dari Asisi
bagi teman-temannya dan yang oleh Paus Innocentius III secara lisan dis-
yahkan pada tahun 1209/1210. Pola dasar bagi Klara agaknya juga terdiri
terutama atas sejumlah kutipan Injil. Ternyata Pola Dasar Hidup itu oleh
Klara sampai akhir hidupnya dipegang, sehingga Anggaran Dasarnya sen-
diri dianggapnya sebagai perkembangan dari Pola Dasar Hidup itu berda-
sarkan pengalaman selama empat puluh tahun dengan ditambah beberapa
aturan yang diambil dari hukum Gereja.
Menurut kutipan yang tercantum dalam Anggaran Dasar Klara, maka dalam
Pola Dasar Hidup tersebut ada dua pokok utama, yakni: hidup menurut kes-
empurnaan Injil dan ikatan erat dengan Fransiskus serta Ordonya. Dan un-
sur pokok dalam “kesempurnaan Injil” tersebut ialah “kemiskinan suci”, sep-
erti diartikan oleh Fransiskus dan Klara, yakni kemiskinan total untuk
mengikuti jejak-jejak Tuhan Yesus Kristus. Kemiskinan sosio-ekonomis
hanya satu segi pada kemiskinan tersebut dan sekaligus jaminan bagi kem-
iskinan menyeluruh. Ikatan dengan kelompok Fransiskus secara formal dan
sejak awal. diwujudkan melalui janji ketaatan dari pihak Klara kepada Fran-
siskus, seperti ditegaskan Klara dalam Anggaran Dasar dan wasiatnya.
Tetapi dalam kerangka umum tersebut Klara mesti mencari jalannya sendiri.
Ada sebuah kesaksian dari tahun 1216 yang diberikan seorang Uskup Peran-
cis, Yakobus dari Vitry yang berkelana di Italia dan lain-lain daerah. Mengenai
daerah Italia tengah (Umbria, Toskane) Yakobus dari Vitry bercerita sebagai
berikut: “Di daerah-daerah itu saya menemukan banyak pria dan wanita dari
kalangan orang kaya dan tanpa pangkat gerejani (awam) yang telah mening-
galkan segala sesuatu demi untuk Kristus. Mereka disebut “Saudara-saudara
dina” dan “saudari-saudari dina”. Wanita dari gerakan itu, tinggal bersama-
sama dalam “hospitia” (penginapan, tempat penampungan) di dekat kota-
kota. Mereka tidak mau menerima apa saja sebagai miliknya, tetapi menja-
min penghidupannya dengan hasil kerja tangan. Tidak dapat diragukan
bahwa Uskup itu berkata tentang kelompok-kelompok wanita yang mirip
dengan kelompok Klara di St. Damiano. Oleh Uskup Yakobus mereka tidak
dianggap “rubiah” sebagaimana ia kenal. Sebab tempat kediaman mereka
bukan “monasterium” melainkan “hospitium”. Kata itu kadang kala berarti
tempat merawat orang sakit dan orang miskin, tetapi juga berarti: tempat
tinggal kurang mantap dan awet. Yakobus dari Vitry melihat juga bahwa
“saudari-saudari dina” itu bekerja untuk mendapat nafkahnya, tetapi tidak
59

