Page 70 - Santa Klara dan Hal-Ihwal Warisan Rohaninya
P. 70

Bagian II: Riwayat Hidup Santa Klara dari Asisi

           tertinggi” sungguh-sungguh injili. Gaya hidup itu merupakan penghayatan
           dan pelaksana Injil sejati, sehingga pantas diusahakan orang beriman. Tidak
           lama setelah Klara meninggal sejumlah theolog di kota Paris akan menya-
           takan bahwa “kemiskinan tertinggi” itu sebenarnya berlawanan dengan Injil,
           suatu “bidaat”. Sebelumnya Innocentius III sudah menangkis serangan da-
           sariah itu atas gaya hidup yang dilahirkan Fransiskus dan Klara di Asisi.
           Mereka sesungguhnya menemukan dan mewujudkan suatu nilai dasariah
           dari Injil Yesus Kristus.
           Dengan demikian maka sejak tahun 1216 Klara dengan gelar “abdis” dan ter-
           lindung  oleh  “privilegium  paupertatis”  secara  terbuka  diakui  keduduk-
           annya. Meskipun tidak ada Anggaran Dasar namun Klara dapat mengem-
           bangkan cara hidupnya. Berapa jumlah teman Klara pada tahun 1216 tidak
           diketahui dengan pasti. Tetapi surat Paus Innocentius III dengan “privile-
           gium paupertatis” mengandaikan sudah ada beberapa. Sebab surat itu diala-
           matkan kepada “Klara dan perawan-perawan lain” dan diandaikan bahwa
           lain-lain orang masih akan menyusul. Hanya diketahui dengan pasti bahwa
           pada tahun 1213 jumlah penghuni St. Damiano sebanyak lima atau enam
           orang: Klara, Agnes, Pacifica, Balbina, Benvenuta dari Perugia dan Filipa.
           Pasti juga bahwa pada tahun 1216 jumlahnya lebih banyak.

           Klara mempunyai gelar “Abdis”, tetapi ternyata sejak awal tidak berlaku se-
           bagai abdis tradisional, baik pada Benediktines maupun pada Sistersien. Pan-
           dangannya tentang peranan “abdis” oleh Klara diambil alih dari Fransiskus.
           Peranan itu tidak dilihat sebagai “jabatan” dan “kedudukan” (menurut tata
           hukum), melainkan sebagai palayanan belaka (menurut Injil). Kalau “Abdis”
           berlaku sebagai “pimpinan”, namun pimpinan itu terlebih pimpinan rohani,
           karismatik, bukan pejabat yang memegang kekuasaan. “Abdis” lebih suatu
           “peran” dari pada suatu “jabatan” dalam pandangan Klara. Abdis berwenang
           bukan atas dasar hukum dan jabatan, melainkan atas dasar kewibawaan ro-
           hani dan pribadi. Gambaran “abdis” yang disajikan Klara dalam Anggaran
           Dasarnya (th. 1253; bab. IV, X) sudah selama 40 tahun diperlihatkan oleh
           Klara sendiri. Ada cukup banyak kesaksian dari pihak mereka yang lama
           hidup bersama dengan Klara, tentang bagaimana gaya Klara selaku “abdis”.
           Ia tidak pernah mau duduk di tengah pada meja utama dalam ruang makan;
           tidur bersama dengan suster lain di bangsal tidur; ia bangun sebagai yang
           pertama, menarik lonceng dan mempersiapkan gereja; selalu dan dimana-
           68
   65   66   67   68   69   70   71   72   73   74   75