Page 184 - Santa Klara dan Hal-Ihwal Warisan Rohaninya
P. 184
Bagian VI: Sejarah Singkat para Pengikut St. Klara
ngalah terhadap tekanan dari pihak Paus Urbanus IV. Paus itu sebenarnya
merestui perkembangan nyata yang sudah menyimpang dari jalur Klara.
Anggaran Dasar Klara sendiri nyatanya dibekukan. Dalam Anggaran Dasar
Urbanus, kendati kata pendahuluan yang memuji Klara, Klara
sesungguhnya tidaklah tampil. Anggaran Dasar Urbanus hanya sekumpulan
hukum kering tanpa inspirasi rohaniah. Nampaknya “keras” tetapi hukum
tanpa jiwa memang tidak jadi dilaksanakan. Dan apa yang nampaknya keras
melalui macam-macam dispensasi yang diminta para Klaris, semuanya di-
perlunak sedemikian rupa, sehingga para Klaris serupa saja dengan rubiah
lain dan hanya memakai nama lain.
C. Ordo Bangsawati
Selama abad XIV keadaan terus tambah parah oleh karena para Klaris jatuh
di tangan para bangsawan dan penguasa. Biara-biara kerap kali dibangun
atau paling tidak “diadopsi” oleh para bangsawan dan orang kaya lainnya.
Dengan memberi harta milik tetap, penghidupan terjamin. Adapun sebab-
nya mengapa mereka begitu murah hati ialah: Mereka menilai biara-biara
yang mereka dirikan atau adopsi sebagai tempat penampungan wanita yang
berlebihan. Di sana nona dan nyonya itu aman, bisa “saleh” dan menikmati
ketenangan yang diinginkan. Biara kerap kali dilihat juga sebagai tempat
titipan nona dan nyonya yang sudah berumur sedikit. Biara menjadi lembaga
sosial belaka. Calon-calon semacam itu agak dipaksakan dan sukar ditolak
oleh biara-biara yang bergantung pada golongan bangsawan dan penguasa.
Nona dan nyonya serta puteri macam itu tidak masuk Klaris oleh karena ter-
pikat oleh semangat Klara. Sebenarnya mereka tidak mengerti apa yang
dikehendaki Klara dan Fransiskus, dan yang di kalangan Klaris sendiri amat
kabur. Tentu saja semangat sejati, seandainya pernah ada, cepat-cepat mero-
sot. Tidak jarang calon-calon macam itu dipaksakan melebihi kapasitas biara.
Nona dan nyonya serta puteri-puteri itu sudah biasa dengan gaya hidup
yang relatip mewah. Mereka sudah biasa dilayani oleh macam-macam pem-
bantu. Di dalam pingitan mereka hanya mau meneruskan apa yang sudah
lazim. Karena itu mereka membawa masuk harta milik, yang tetap dianggap
milik pribadi atau milik famili. Karena itu mesti diurus seperti dahulu.
Mereka pun membawa masuk pembantu dan pelayannya, atau paling tidak
mengharapkan orang macam itu di dalam biara.
182

