Page 63 - Santa Klara dan Hal-Ihwal Warisan Rohaninya
P. 63
Bagian II: Riwayat Hidup Santa Klara dari Asisi
Dalam wasiatnya Klara menulis: “Fransiskus tidak merasa puas hanya
dengan banyak wejangan dan teladan mengajak kami, tetapi Fransiskus juga
memberi kami beberapa tulisan”. Jadi rupanya ada juga surat-menyurat an-
tara Fransiskus dan Klara. Tetapi dari “tulisan-tulisan” itu hanya tersimpan
Pola Dasar Hidup (sebagian), wasiat Fransiskus untuk Klara dan sebuah
sajak. Hanya jelas bahwa pokok utama pembicaraan Klara dengan Fransis-
kus ialah: bagaimana mencintai dan melaksanakan kemiskinan suci, seperti
yang ditegaskan Klara dalam wasiatnya. Klara tentu saja tidak dapat dan
tidak mau menjiplak cara hidup Fransiskus serta kawan-kawannya. Saudara-
saudara Dina berkelana kemana-mana, memberitakan Injil pertobatan sam-
bil menangani bermacam-macam pekerjaan untuk mencari nafkah. Se-
baliknya Klara nyatanya tinggal dan mau tinggal di komplek kecil St. Dami-
ano. Tidak ada satu pun tanda bukti bahwa Klara pernah/ ingin mengikuti
saudara-saudara dina di perjalanannya. Memang di masa itu ada kelompok-
kelompok wanita yang bersama dengan kelompok-kelompok pria berkelil-
ing dan begitu menghayati hidup rasuli. Kelompok-kelompok itu tentu saja
dicurigai oleh pimpinan Geereja. Sebaliknya cukup pasti bahwa Klara sejak
awal menghendaki hidup kontemplatip, tanpa menjadi rubiah seperti sudah
ada. Karena itu, Klara, kendati pertolongan (bukan paksaan) Fransiskus
(serta teman-temannya), mesti mencari jalannya sendiri guna memberi ben-
tuk terperinci kepada gaya hidup yang secara dasariah saja sama dengan-
gaya hidup saudara-saudara dina.
Semua itu berarti bahwa mula-mula hidup di St. Damiano sangat eksperi-
mental. Di bawah inspirasi dasariah yang mantap kelompok Klara mencari-
cari saja dengan kebebasan penuh. Gaya hidup kelompok itu yang masih
perlu ditentukan secara terperinci oleh Klara dan Fransiskus nampaknya
dirasakan sebagai belahan kedua, pelengkap setingkat, bagi gaya hidup
saudara-saudara di sana. Mereka mesti saling melengkapi, agar karisma
mereka menjadi utuh terwujud. Ada berita bahwa Fransiskus pernah bim-
bang kalau-kalau mesti menghayati Injil seperti dipahami secara kontem-
platip – sesuai dengan kecendrungan pribadi Fransiskus – atau secara aktip.
Atas nasehat Klara (dan Silvester) Fransiskus memilih cara aktip. Adalah
mungkin bahwa pada kesempatan itu Klara menegaskan dan berjanji, bahwa
ia sendiri beserta teman-temannya akan memilih cara kontemplatip. Begitu-
lah karisma Fransiskus dan Klara bersama mendapat penghayatan konkrit,
61

