Page 85 - Santa Klara dan Hal-Ihwal Warisan Rohaninya
P. 85
Bagian II: Riwayat Hidup Santa Klara dari Asisi
pertengahan dinilai sebagai “mukjizat” dan diceritakan sebagai “mukjizat”.
Meskipun Klara menghendaki dan mempertahankan “kemiskinan tertinggi”
namun sebagai pemimpin bijaksana ia pun mesti realis. Ia tidak boleh
menuntut terlalu banyak. Itulah sebabnya mengapa Klara memberikan ke-
bebasan agak besar bagi masing-masing saudari dalam pelaksanaan kemis-
kinan jasmani. Kalau ada kiriman dari luar, mereka boleh saja menerimanya
dan memakainya sejauh mereka sendiri menganggapnya perlu. Tetapi me-
reka boleh juga membagi-bagikannya kepada saudari-saudari lain, sesuai
dengan keperluan. Kiriman uang pun diterima dan dibelikan untuk keper-
luan saudari yang bersangkutan. Sikap Klara terhadap uang jauh lebih lunak
dari pada sikap Fransiskus, yang benci kepada uang. dan melarang
pemakaiannya. Sekali lagi nampak bahwa Klara tidak menjiplak Fransiskus.
Satu-satunya yang dengan keras, dilarang Klara ialah apa saja yang berla-
wanan dengan “privilegium paupertatis”. Klara tidak mau menerima milik
tetap di luar St. Damiano, meskipun berulang kali ditawarkan kepadanya,
malah oleh Kardinal Hugolinus. Tetapi St. Damiano dengan sebidang tanah
sekitar untuk berkebun memang milik penghuninya, padahal Fransiskus
(mula-mula) tidak mengizinkan milik semacam itu.
Klara yang ingin mendidik para pengikutnya dan mengantar mereka kepada
kesempurnaan Injil, membimbing mereka dengan mendahuluinya di jalan
sempit itu. Untuk mengikuti Yesus yang miskin dan bersengsara Klara men-
erapkan pada dirinya suatu kekerasan yang melampaui kemampuan dan
daya tahan manusia yang kurang bersemangat. Mistik kemiskinan pada
Klara bergabung dengan mistik sengsara, sama seperti pada Fransiskus. Dan
mistik itu mewujudkan diri dalam ulah tapa yang melampaui batas manusia
yang bukan mistikus. Tempat tidur Klara entah tanah rata – di masa itu orang
biasa tidur dengan memakai tikar – atau setumpukan ranting pokok anggur
dan bantalnya sepotong kayu. Akhirnya tempat tidur itu diganti dengan
tikar dan seberkas jerami sebagai bantal. Klara pun beberapa lamanya
mengenakan baju dalam yang dibuat dari kulit babi dengan di sebelah da-
lamnya bulu babi yang tajam. Akhirnya Fransiskus dan Uskup Asisi merasa
perlu campur tangan dalam ulah-tapa semacam itu dan menyuruh Klara
memperlunak sedikit prakteknya. Di belakang ulah tapa itu tidak
tersembunyi semacam “askese”, apalagi dualisme yang membenci kejasma-
nian. Klara – sama seperti Fransiskus – memuji Allah dalam alam ciptaan-
83

